Layanan pendidikan inklusif merupakan sistem pelaksanaan pendidikan yang memberi akses, hak, dan kesempatan yang sama bagi semua orang. Hal ini berkaitan erat dengan pendidikan multikultural karena keduanya menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi terhadap sesama.
Namun, pendidikan multikultural biasanya lebih fokus pada perbedaan latar belakang sosial, seperti asal-usul, suku, agama, dan sebagainya. Ini agak berbeda dengan pendidikan inklusif yang mengutamakan layanan kepada mereka yang mengalami perbedaan fisik maupun mental.
Sementara itu menurut keterangan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, inklusif mengandung arti ‘termasuk’ atau ‘terhitung’. Oleh karena itu, pendidikan inklusif dapat disimpulkan sebagai sistem pendidikan yang melibatkan setiap individu tanpa memandang kondisi mereka.
Contents
Tujuan Pendidikan Inklusif
Secara garis besar, tujuan terpenting dari layanan pendidikan inklusif yaitu untuk memberikan kepastian bahwa semua individu dapat memperoleh pendidikan di daerah tempat tinggalnya. Selain itu masih ada beberapa manfaat lain yang nilainya tidak kalah penting sebagaimana penjelasan berikut ini:
Memberi Kesempatan dan Akses Belajar
Layanan pendidikan inklusif harus mampu memberi kesempatan dan akses belajar pada semua peserta didik termasuk penyandang disabilitas. Sehingga mereka tetap dapat mengikuti proses pembelajaran tanpa perbedaan meski ada keterbatasan fisik atau mental. Terlebih lagi, pendidikan merupakan hak setiap orang.
Pada sisi yang lain, keberagaman dalam pendidikan juga dapat meningkatkan kemampuan para peserta didik untuk mengembangkan diri secara lebih optimal. Mereka dapat ikut berpartisipasi di lingkungan sekolah dan komunitas inklusif lainnya, sehingga bisa mendapatkan pengalaman bersosialisasi yang lebih luas.
Meningkatkan Toleransi
Membeda-bedakan pertemanan berdasarkan kondisi fisik dan mental merupakan sikap yang tidak baik. Sehingga harus ada penyatuan dan penghormatan terhadap keberagaman karena hal ini bisa memberi dorongan pada peserta didik untuk belajar menghargai perbedaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dorongan bagi peserta didik untuk menyadari apabila keberagaman dan perbedaan itu bukan penghalang untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Semakin baik mereka berinteraksi, pandangan negatif terhadap penyandang disabilitas dapat berkurang bahkan menjadi hilang.
Lingkungan pertemanan yang baik dan sehat juga menciptakan rasa memiliki dan menerima. Semua orang harus mempunyai kedua perasaan tersebut agar bisa lebih berempati dan menjadi individu yang inklusif. Mereka tidak segan dan bersedia berteman dengan siapa saja, termasuk penyandang disabilitas.
Meningkatkan dan Menjaga Harga Diri
Harga diri merupakan salah satu unsur terpenting yang harus melekat pada setiap orang. Dalam layanan pendidikan inklusif, hal ini dapat tercipta melalui jalinan pertemanan yang baik antara penyandang disabilitas dan non disabilitas. Mereka bisa saling kerja sama untuk belajar mengenal dan menggali potensi diri demi menggapai masa depan yang lebih gemilang.
Dalam hal ini perlu ada pemahaman pula bahwa setiap orang pasti punya keinginan mendapat pengakuan eksistensi dari orang lain sekaligus hak yang sama memiliki kompetensi. Jadi wajar jika penyelenggaraan pendidikan atau sekolah inklusi itu merupakan hal yang sangat penting dan harus tersedia di setiap wilayah.
Meningkatkan Perkembangan Perilaku
Sekolah inklusi bisa memunculkan dorongan kepada para muridnya untuk saling toleransi dan menghormati. Karakter seperti ini dapat membantu meningkatkan moral siswa, karena semua siswa akan memahami bahwa penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama seperti siswa non-disabilitas. Khususnya hak mendapat layanan pendidikan di sekolah baik yang formal maupun non formal.
Dengan adanya sifat yang demikian, akan meningkat pula kemampuan untuk komunikasi dan sosialisasi. Mereka dapat membangun pertemanan yang baik di lingkungan inklusif, sehingga bersama-sama belajar mencari pengetahuan dan menuntut ilmu.
Mudah Beradaptasi dalam Pergaulan Masyarakat
Setiap siswa yang memiliki kesempatan memperoleh layanan pendidikan inklusif biasanya lebih mudah bergaul dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Melalui pembelajaran dan berbagai kegiatan yang dilakukan bersama-sama di sekolah, mereka mampu memahami bermacam-macam realita dalam kehidupan.
Dengan demikian, mereka pun lebih mudah menyesuaikan diri atau beradaptasi. Mereka sangat menyadari jika dalam kehidupan sosial termasuk lingkungan kerja itu terdapat beragam perbedaan dan alat terbaik untuk menyatukan perbedaan tersebut, langkah terbaiknya adalah saling menghargai.
Contoh Layanan Pendidikan Inklusif
Di Indonesia, saat ini sudah ada sekolah reguler yang mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus, mulai dari tingkat TK hingga SLTA. Ini merupakan salah satu wujud upaya pemerintah untuk menyediakan sarana pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Sekolah tersebut mempunyai kurikulum khusus sesuai dengan kondisi peserta didik. Misalnya, peserta didik yang tuli, tunanetra, atau memiliki keterlambatan perkembangan, dapat mengikuti kurikulum yang sesuai.
Pendidikan yang ramah bagi semua anak, termasuk yang memiliki disabilitas, memungkinkan mereka belajar bersama di sekolah biasa. Selama kondisinya tidak menghambat proses belajar, mereka tetap bisa mengikuti kegiatan seperti murid lainnya.
Dalam hal tersebut, orangtua dapat konsultasi dulu pada pihak sekolah maupun penyelenggara pendidikan. Misalnya untuk siswa dari kalangan penyandang disabilitas fisik dan pakai kursi roda atau alat bantu lain ketika berjalan, tetap dapat ikut pendidikan di sekolah umum, bukan SLB.
Jika ada lembaga pendidikan yang punya siswa dalam kondisi seperti itu, perlu ada pemahaman dari semua pihak untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mereka. Selain itu tidak ada salahnya setiap guru atau pengajar mengikuti program pelatihan khusus. Dengan begitu, guru dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih baik dan merata bagi semua murid.

