Di kawasan Asia Tenggara, diperkirakan terdapat sekitar 62 juta orang yang hidup dengan disabilitas. Sayangnya, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak di antara 10 negara ASEAN.
Menurut SUSENAS 2020, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 28,05 juta atau setara 10% dari populasi nasional. Terpaut jauh dari jumlah disabilitas yang ada di Filipina, Vietnam, dan Thailand. Tingginya jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tentu saja memantik rasa ingin tahu khalayak tentang faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi.
Melalui berbagai survei kesehatan, termasuk survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, terkuak beberapa faktor penyebab tingginya angka penyandang disabilitas di Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain:
| Faktor Penyebab | Keterangan Singkat |
|---|---|
| Kepadatan penduduk | Populasi terbesar di ASEAN meningkatkan prevalensi absolut disabilitas |
| Kemiskinan | Rendahnya akses gizi dan layanan kesehatan memicu disabilitas bawaan |
| Stunting | 21,6% balita stunting berpotensi mengalami disabilitas fisik dan kognitif |
| Kondisi ibu hamil | Malnutrisi dan KEK pada ibu hamil berdampak pada tumbuh kembang bayi |
| Kualitas udara buruk | Polusi udara terkait peningkatan kasus autisme setiap tahun |
| Kecelakaan kerja tinggi | 57,2% pasien kecelakaan kerja mengalami perubahan bentuk atau fungsi tubuh |
Contents
- 1 Kepadatan Penduduk
- 2 Indonesia Termasuk Negara Miskin
- 3 Angka Stunting
- 4 Kondisi Ibu Hamil
- 5 Kualitas Udara
- 6 Tingkat Kecelakaan Kerja Tinggi
- 7 FAQ: Faktor Tingginya Jumlah Penyandang Disabilitas di Indonesia
- 7.1 Mengapa Indonesia memiliki jumlah penyandang disabilitas terbanyak di ASEAN?
- 7.2 Apakah stunting bisa menyebabkan disabilitas?
- 7.3 Bagaimana polusi udara bisa menyebabkan autisme?
- 7.4 Seberapa besar dampak kecelakaan kerja terhadap angka disabilitas di Indonesia?
- 7.5 Apakah kemiskinan benar-benar berpengaruh pada angka disabilitas?
- 7.6 Apa yang bisa dilakukan untuk menekan angka disabilitas di Indonesia?
Kepadatan Penduduk
Salah satu cara mengetahui penyebab di balik banyaknya jumlah penyandang disabilitas di suatu negara adalah dengan menyorot seberapa banyak jumlah penduduk di negara tersebut. Indonesia sendiri merupakan negara dengan penduduk terpadat nomor satu di ASEAN dengan jumlah populasi lebih dari 277 juta jiwa.
Semakin padat jumlah penduduk, semakin besar pula berbagai risiko yang ditimbulkan, termasuk prevalensi disabilitas. Jika kita bandingkan dengan Brunei Darussalam, jelas angka populasi disabilitas Indonesia tampak jauh lebih besar.
Di Brunei, jumlah penyandang disabilitas tercatat hanya sekitar 9.282 orang. Angka tersebut terkesan minimalis. Padahal populasi penduduk Brunei pun hanya mencapai 463.700, jauh di bawah Indonesia. Oleh karena itu, jumlah penyandang disabilitas di Brunei sangat kecil jika dibandingkan dengan Indonesia.
Hal yang sama dapat kita tilik dari negara-negara ASEAN lainnya. Misalnya, Filipina dan Vietnam. Filipina menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penduduk disabilitas terbanyak di Asia Tenggara, disusul oleh Vietnam. Dari total populasi nasional kedua negara tersebut, penduduk Filipina lebih banyak daripada Vietnam. Wajar jika penyandang disabilitas di Filipina lebih banyak daripada Vietnam tetapi lebih sedikit daripada Indonesia.
Indonesia Termasuk Negara Miskin
Meski menurut laporan BPS grafik kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan dari 9,36% ke 9,03%, namun penurunan angka tersebut belum berhasil menghapus nama Indonesia dari daftar 100 negara miskin di dunia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara sendiri, standar pengeluaran per kapita Indonesia masih berada di bawah Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Kemiskinan secara tidak langsung berdampak pada tingkat pengetahuan penduduk terhadap kesehatan. Pemenuhan gizi yang tersendat oleh faktor ekonomi akan berdampak pada tumbuh kembang anak di dalam kandungan maupun setelah kelahiran, sehingga menjadikannya seorang penyandang disabilitas seumur hidup.
Angka Stunting
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tidak lantas bebas dari kasus stunting. Faktanya, 1 dari 5 anak di bawah usia lima tahun berstatus gizi buruk atau stunting. Persentase kasus stunting di Indonesia mencapai 21,6%, atau nomor dua terbanyak setelah Timor Leste.
Stunting sendiri merupakan salah satu penyebab terjadinya cacat bawaan maupun cacat di usia lanjut. Asupan nutrisi di bawah kebutuhan normal tubuh memunculkan risiko disabilitas fisik maupun mental, seperti:
- Perkembangan otak sangat lamban.
- Tubuh kerdil.
- Berat badan di bawah rata-rata.
Meskipun Timor Leste memiliki tingkat stunting yang sangat tinggi, dengan sekitar 47% anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, jumlah penduduk di Timor Leste jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 270 juta jiwa. Meskipun stunting dapat menyebabkan disabilitas fisik dan kognitif, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tetap lebih banyak karena faktor jumlah penduduk yang jauh lebih besar serta berbagai faktor lain seperti kemiskinan, kecelakaan, dan masalah kesehatan yang turut berkontribusi pada prevalensi disabilitas.
Kondisi Ibu Hamil
Kondisi ibu hamil perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor penyebab disabilitas di suatu negara. Ibu yang mengalami permasalahan kesehatan serius berisiko melahirkan anak disabilitas. Begitupun ketika ibu hamil mengalami malnutrisi, terutama pada trimester pertama kehamilan.
Di Indonesia, angka ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) masih cukup tinggi. Ditambah lagi tingkat pengetahuan ibu muda terhadap kesehatan diri dan bayi dalam kandungan yang rendah. Akibatnya tumbuh kembang bayi terhambat dan berpotensi disabilitas ketika lahir.
Kualitas Udara
Baik atau buruk kualitas udara suatu negara turut mempengaruhi kualitas kesehatan penduduk di dalamnya. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa udara yang tercemar atau polusi udara oleh asap kendaraan bermotor, pembakaran lahan, dan emisi industri meningkatkan risiko autisme pada anak hingga 78%.
Sayangnya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, menduduki peringkat ke-14 global dan peringkat pertama di Asia Tenggara. Rapor merah kualitas udara tersebut turut memperburuk angka penyandang autis di Indonesia. Kementerian Kesehatan membeberkan data lonjakan jumlah penyandang autis setiap tahun. Sedikitnya, setiap tahun terjadi penambahan jumlah penyandang autis sebanyak 500 orang.
Dari fakta tersebut, tidak mengherankan jika jumlah penyandang disabilitas di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Untuk memahami lebih lanjut berbagai contoh disabilitas fisik yang bisa terjadi akibat berbagai faktor tersebut, simak ulasan lengkapnya.
Tingkat Kecelakaan Kerja Tinggi
Selain faktor genetik, disabilitas juga bisa disebabkan oleh kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas. Tak jarang kecelakaan fatal mengakibatkan anatomi tubuh tidak lagi sempurna secara bentuk maupun fungsi.
Di Indonesia tingkat kecelakaan kerja masih terbilang tinggi, bahkan termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Setiap tahun terdapat penambahan jumlah pasien kecelakaan kerja. Penelitian yang dilakukan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo menghasilkan data bahwa sebanyak 57,2% dari pasien kecelakaan kerja mengalami perubahan bentuk atau fungsi tubuh akibat insiden tersebut, yang berpotensi mengakibatkan kecacatan permanen.
Berbeda dengan Singapura dan Brunei. Tingkat kecelakaan kerja dan lalu lintas di kedua negara tetangga Indonesia itu sangat minim. Singapura sendiri dalam beberapa tahun belakangan mengalami penurunan angka kematian dan kecelakaan di tempat kerja. Oleh sebab itu, kasus cacat anatomi akibat kecelakaan kerja di Singapura jarang terjadi.
Itulah faktor penyebab jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Ini bukanlah prestasi yang membanggakan, melainkan pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama demi menekan pertambahan jumlah disabilitas di masa mendatang.
Memahami faktor-faktor ini adalah langkah awal yang penting. Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa mereka yang sudah menjadi penyandang disabilitas dapat hidup bermasyarakat secara setara dan bermartabat. Salah satu caranya adalah melalui konsultasi dan pemberdayaan disabilitas yang terencana dan inklusif.
FAQ: Faktor Tingginya Jumlah Penyandang Disabilitas di Indonesia
Mengapa Indonesia memiliki jumlah penyandang disabilitas terbanyak di ASEAN?
Indonesia memiliki jumlah penyandang disabilitas terbanyak di ASEAN karena kombinasi beberapa faktor sekaligus. Pertama, Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, sehingga secara absolut jumlah penyandang disabilitasnya pun lebih besar. Selain itu, faktor kemiskinan, angka stunting yang masih tinggi, kondisi ibu hamil yang kerap kekurangan gizi, kualitas udara yang buruk, serta tingginya angka kecelakaan kerja turut berkontribusi pada prevalensi disabilitas yang lebih tinggi dibanding negara ASEAN lainnya.
Apakah stunting bisa menyebabkan disabilitas?
Ya. Stunting, yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, dapat berdampak pada perkembangan otak yang sangat lamban, tubuh kerdil, dan berat badan di bawah rata-rata. Kondisi ini meningkatkan risiko disabilitas fisik maupun kognitif yang dapat berlangsung seumur hidup. Indonesia mencatat persentase stunting sebesar 21,6%, yang menempatkannya pada posisi nomor dua tertinggi di Asia Tenggara setelah Timor Leste.
Bagaimana polusi udara bisa menyebabkan autisme?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara, terutama dari asap kendaraan bermotor, pembakaran lahan, dan emisi industri, dapat meningkatkan risiko autisme pada anak. Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara sebagai negara dengan kualitas udara terburuk, dan data Kementerian Kesehatan mencatat penambahan penyandang autis setidaknya 500 orang setiap tahunnya.
Seberapa besar dampak kecelakaan kerja terhadap angka disabilitas di Indonesia?
Dampaknya cukup signifikan. Penelitian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa 57,2% pasien kecelakaan kerja mengalami perubahan bentuk atau fungsi tubuh yang berpotensi menimbulkan kecacatan permanen. Indonesia termasuk negara dengan tingkat kecelakaan kerja tertinggi di Asia Tenggara, berbeda jauh dengan Singapura dan Brunei yang mencatat angka kecelakaan kerja sangat rendah.
Apakah kemiskinan benar-benar berpengaruh pada angka disabilitas?
Ya, secara tidak langsung. Kemiskinan membatasi akses keluarga terhadap gizi yang cukup, layanan kesehatan yang memadai, dan pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak. Kondisi ini meningkatkan risiko lahirnya anak dengan disabilitas bawaan akibat malnutrisi selama kehamilan, serta memperbesar kemungkinan tidak tertanganinya kondisi kesehatan yang berpotensi menyebabkan disabilitas di kemudian hari.
Apa yang bisa dilakukan untuk menekan angka disabilitas di Indonesia?
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: memperkuat program penanganan stunting dan gizi ibu hamil, meningkatkan standar keselamatan kerja, mengurangi polusi udara melalui regulasi emisi yang lebih ketat, serta meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan berkualitas. Di sisi lain, bagi mereka yang sudah menjadi penyandang disabilitas, tersedianya program pemberdayaan dan inklusi yang memadai sama pentingnya untuk memastikan mereka dapat hidup dengan bermartabat.
Artikel ini terakhir ditinjau dan diperbarui oleh Tim Parakerja pada 20 April 2026 untuk memastikan keakuratan data dan kesesuaian dengan perkembangan statistik disabilitas terkini.