Juru bahasa isyarat (JBI) belum menjadi profesi yang populer di Indonesia. Profesi ini masih minim peminat dan memiliki jaringan profesional yang terbatas. Padahal, Pemerintah mulai menggalakkan program-program inklusi di segala bidang. Artinya, peran JBI dalam proyek-proyek inklusi akan semakin besar. Hanya saja untuk menjaga profesionalisme kerja, berlaku sejumlah kode etik juru bahasa isyarat. Penyedia layanan JBI pun wajib memperhatikan hal ini agar kualitas layanan tetap terjaga.Â
Contents
- 1 Kode Etik Juru Bahasa Isyarat
- 1.1 Seorang JBI harus bersikap sopan, jujur, dan terbuka
- 1.2 Mampu Mengelola Emosi Dalam Setiap Situasi
- 1.3 Disiplin WaktuÂ
- 1.4 Cepat dalam Proses Penerjemahan
- 1.5 Wajib Menerjemahkan Secara Akurat
- 1.6 Juru Bahasa Isyarat Pantang Memotong Pembicaraan
- 1.7 Harus Memiliki Kemampuan Berbahasa Isyarat BISINDO
- 1.8 Juru Bahasa Isyarat Berani Memperjuangkan Kebutuhan Klien
- 1.9 Berpakaian dengan Warna Kontras Kulit
- 1.10 Tidak Mengenakan Aksesori, Masker Pelindung, dan Menutup Tato di Area Terbuka
- 2 Kesimpulan
Kode Etik Juru Bahasa Isyarat
Kode etik juru bahasa isyarat merupakan sekumpulan aturan berlandaskan prinsip-prinsip moral hasil kesepakatan GERKATIN beserta organisasi-organisasi peduli insan tuli. Secara garis besar, kode etik ini berfungsi untuk membatasi perbuatan-perbuatan JBI yang berpotensi mencoreng citra profesi dan merugikan klien.
Dari beberapa poin kode etik juru bahasa isyarat yang berlaku, Dua di antaranya bahkan jarang diketahui oleh masyarakat umum. Untuk lebih jelasnya, berikut deretan kode etik juru bahasa isyarat selama bertugas:
Seorang JBI harus bersikap sopan, jujur, dan terbuka
Sikap sopan tak hanya membuat JBI disenangi klien, tapi juga menjaring lebih banyak mitra kerja serta membuka kesempatan-kesempatan baru.Â
Selain itu, apapun yang terjadi JBI harus berani jujur dan terbuka dalam menyampaikan informasi. Sebab JBI bisa bermitra dengan siapa saja. Lingkup kerjanya luas dan sangat mungkin terlibat dalam proses penyelesaian masalah hukum di pengadilan. Dengan kejujuran dan keterbukaannya dalam berisyarat, JBI dapat mencegah terjadinya miskomunikasi antara insan tuli dan insan dengar.
Mampu Mengelola Emosi Dalam Setiap Situasi
Ada lagi yang tak kalah penting dari sikap sopan, jujur, dan terbuka, yakni mampu mengontrol emosi atau mood. Perselisihan sering kali terjadi karena emosi yang tidak terkendali.Â
Sama seperti profesi lainnya, JBI juga tidak terlepas dari yang namanya tekanan kerja. Tantangannya tak selalu mudah. Orang-orang di sekitarnya tak selalu ramah. Terutama saat mendampingi penyandang disabilitas yang mungkin memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan individu non-disabilitas.
Oleh karena itu, kemampuan mengelola emosi penting dimiliki setiap JBI. Tanpa mengindahkan kode etik ini, JBI bakal sulit membangun keakraban dan hubungan harmonis dengan klien.
Disiplin WaktuÂ
Profesionalisme JBI tercermin dari kepatuhannya terhadap jadwal yang telah disepakati.Â
Ketepatan waktu selama bertugas sangat besar pengaruhnya terhadap kelancaran sebuah acara. Bahkan beberapa acara penting sangat ketat dalam hal ketepatan waktu. Juru bahasa isyarat yang sering datang terlambat, pastinya akan sulit bekerja sama.
Cepat dalam Proses Penerjemahan
Yang dimaksud dengan “cepat” adalah kemampuan JBI dalam mengikuti ritme bahasa lisan. Sehingga tidak ada kalimat yang “bolong” hanya karena JBI tertinggal jauh dari pembicara lisan.Â
Ini pernah terjadi dalam beberapa program acara televisi yang mengikutsertakan juru bahasa isyarat. Salah satu contoh pada program debat capres beberapa bulan lalu. Banyak informasi yang luput tersampaikan oleh JBI. Akibatnya, informasi yang diterima oleh insan tuli menjadi tidak utuh. Kuat dugaan penyebabnya karena dua hal. Pertama, JBI tidak tahu gerakan isyarat yang tepat. Kedua, JBI gagal mengimbangi kecepatan pembicara lisan.Â
Wajib Menerjemahkan Secara Akurat
Bukan hanya cepat, JBI juga harus berani menjamin hasil terjemahannya akurat. Dengan alasan apa pun, JBI tidak boleh menambah atau mengurangi informasi yang diterjemahkan. Apalagi bila terjadi pergeseran makna dari bahasa semula.Â
Hasil terjemahan yang tidak akurat bukan saja membingungkan insan tuli, tapi juga bisa mendapatkan sanksi hukum karena dianggap menyampaikan informasi palsu.Â
Juru Bahasa Isyarat Pantang Memotong Pembicaraan
JBI harus mampu menahan diri dari keinginan memotong pembicaraan. Penerjemahan baru boleh dimulai setelah lawan selesai berbicara.
Namun, dalam kondisi tertentu, JBI menerjemahkan secara simultan dengan pembicara lisan. Agar konsentrasi JBI tidak terpecah, biasanya ia bekerja dalam ruangan khusus yang dilengkapi dengan kamera dan alat bantu dengar. Jenis JBI seperti inilah yang kerap muncul dalam program-program televisi.Â
Harus Memiliki Kemampuan Berbahasa Isyarat BISINDO
BISINDO merupakan bahasa isyarat yang digunakan secara luas oleh komunitas tuli di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini menjadi alat komunikasi utama mereka dalam keseharian.Â
Sayangnya, BISINDO belum dibakukan secara resmi oleh pemerintah. Sehingga untuk kebutuhan formal, BISINDO sering terpinggirkan dan SIBI sebagai gantinya.Â
Menguasai SIBI memang keharusan bagi seorang juru bahasa isyarat agar tercipta keberagaman. Tetapi, dalam kode etik JBI juga harus punya keterampilan berbahasa isyarat BISINDO. JBI bisa lebih mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan insan tuli dalam acara-acara. Apakah perlu menggunakan SIBI atau justru memprioritaskan BISINDO?
Juru Bahasa Isyarat Berani Memperjuangkan Kebutuhan Klien
JBI menjembatani insan tuli dengan pembicara lisan. Oleh karena itu, profesi JBI setara dengan profesi lainnya.
Sebagai perwakilan insan tuli dalam forum-forum penting, JBI dapat membantu insan tuli dalam mendapatkan hak-hak mereka di depan umum. Misal hak untuk bertanya, hak mengajukan pendapat, dan sebagainya. Dengan catatan ini hanya dapat dilakukan JBI dengan dasar profesional kerja, bukan keinginan ikut campur.
Berpakaian dengan Warna Kontras Kulit
Kode etik ini cukup unik dan sering menimbulkan perdebatan. Dahulu ada ketentuan ketika seorang JBI harus menggunakan warna gelap seperti hitam ketika bertugas. Namun sebagian orang menentang hal itu dengan pertimbangan kondisi warna kulit.Â
Jika JBI berkulit gelap mengenakan pakaian hitam, kontras visual bisa berkurang. Hal ini dapat menyulitkan penglihatan karena bahasa isyarat berfokus pada area wajah dan dada. Maka sebaiknya orang berkulit hitam mengenakan pakaian berwarna sedikit lebih terang tetapi tidak terlalu norak. Misalnya, warna cokelat muda.Â
Sedangkan JBI berkulit terang sarannya berpakaian warna gelap seperti hitam, biru laut, dan hijau zaitun.
Tidak Mengenakan Aksesori, Masker Pelindung, dan Menutup Tato di Area Terbuka
Poin terakhir ini juga jarang menjadi perhatian oleh masyarakat pada umumnya. Ternyata, JBI tidak boleh menggunakan benda-benda yang dapat memecah konsentrasi orang lain ketika melihat.
Misalnya, memakai perhiasan, pita besar, masker pelindung, bahkan cadar. Untuk tato, selama letaknya dapat tertutup oleh pakaian masih boleh Namun jika tidak bisa ditutup, hal ini harus menjadi pertimbangan profesional.
Kesimpulan
Itulah sejumlah kode etik juru bahasa isyarat yang harus selalu mendapat perhatian. Penyedia layanan JBI juga wajib memperhatikan kode etik ini. Dapat disimpulkan bahwa profesi ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara sembarangan. Tak heran jika di luar negeri JBI termasuk salah satu profesi yang juga mendapat perhitungan. Parakerja sebagai perusahaan yang fokus pada pemberdayaan disabilitas siap membantu perusahaan dan para mitra dalam menyediakan Juru Bahasa Isyarat yang kompeten dan tentunya profesional.
