Bahasa memegang peranan penting dalam komunikasi. Bahasa memungkinkan setiap orang saling terhubung satu sama lain dan berbagi berita maupun pesan. Menurut Ethnologue, ada sekitar 7.000 bahasa pengantar komunikasi di dunia. Namun secara garis besar, bahasa umumnya terbagi dua, yakni bahasa tutur dan bahasa isyarat.
Bahasa isyarat digunakan oleh kelompok tertentu, seperti penyandang tuli, penyandang disabilitas bicara, dan orang-orang yang mengalami hambatan berbicara karena suatu kondisi medis (disartria). Namun ada kalanya penyandang tuli harus berkomunikasi dengan penutur lisan yang tidak menguasai bahasa isyarat. Agar komunikasi bisa terhubung dengan baik, di sinilah peran penerjemah bahasa isyarat diperlukan.
Contents
Siapa Penerjemah Bahasa Isyarat?
Profesi penerjemah bahasa isyarat semakin menjadi sorotan. Kemunculannya semakin sering terlihat, terutama sejak program-program inklusif diterapkan di banyak negara. Baik dalam acara televisi, seminar, rapat, hingga persidangan.
Di Indonesia, penerjemah bahasa isyarat dapat berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Persyaratan untuk menjadi penerjemah di Indonesia memang relatif lebih sederhana dibandingkan beberapa negara lain.
Sebagai gambaran, untuk menjadi penerjemah bahasa isyarat resmi di Amerika Serikat, seseorang harus lulus perguruan tinggi dengan disiplin ilmu terkait. Masa belajar yang dibutuhkan bisa mencapai 3-4 tahun. Oleh karena itu, di sana, profesi penerjemah bahasa isyarat tergolong terpandang dengan gaji yang relatif tinggi.
Sementara itu, di Indonesia, tidak ada ketentuan baku bahwa penerjemah bahasa isyarat harus seorang sarjana. Yang terpenting adalah menguasai bahasa isyarat sesuai komunitas penyandang tuli, terbiasa berbaur dengan komunitas tersebut, memahami tradisi yang berkembang dalam keseharian mereka, serta memiliki ekspresi yang jelas.
Bagi penyandang tuli atau orang dengan hambatan bicara lainnya, penerjemah adalah alat komunikasi penting antara mereka dan penutur lisan. Dalam hal ini, penerjemah bertugas menerjemahkan bahasa isyarat ke bahasa lisan, dan sebaliknya. Penerjemah juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan segala sesuatu yang telah ditandatangani penyandang tuli kepada penutur lisan.
Kerja Sama Efektif dan Efisien dengan Penerjemah Bahasa Isyarat
Dalam menjalankan tugasnya, penerjemah dapat bekerja sama dengan siapa saja sesuai kesepakatan kerja. Bisa paruh waktu maupun dengan ikatan kontrak tahunan. Meski mereka dilibatkan dalam suatu kepentingan, posisi penerjemah tidak boleh lebih dominan dari pihak yang mereka wakili, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Untuk memastikan kerja sama yang efektif, berikut tata tertib yang perlu diperhatikan:
Tetap Fokus pada Lawan Interaksi Utama
Saat menggunakan jasa penerjemah bahasa isyarat, ingatlah bahwa dia bukan lawan interaksi utama. Lawan bicara sebenarnya adalah penyandang tuli.
Saat percakapan berlangsung, arahkan pandangan kepada penyandang tuli, seolah-olah kedua pihak saling memahami. Biarkan penerjemah menjalankan tugasnya tanpa perlu terlalu diperhatikan, kecuali sesekali saja.
Berbicara dengan Aksen yang Sewajarnya
Penerjemah bahasa isyarat bukan lawan bicara utama. Oleh karena itu, berbicaralah kepada penyandang tuli dengan cara yang wajar, seakan sedang berbicara langsung kepada mereka.
Hindari kalimat-kalimat seperti:
- “Tolong beritahu dia tentang yang saya katakan.”
- “Apakah dia mengerti yang saya bilang?”
- “Sepertinya dia tidak mengerti, tolong ulangi lagi yang saya katakan tadi kepadanya.”
Ambil Posisi Dekat Penerjemah
Posisi penerjemah juga bagian dari tata tertib. Idealnya, penerjemah berdiri di samping penutur lisan. Dengan posisi ini, penutur lisan dapat mendengar penerjemah dengan jelas, sedangkan penyandang tuli dapat dengan mudah melihat gerakan tangan dan ekspresi wajah penerjemah.
Tempatkan Pencahayaan yang Memadai
Untuk kebutuhan panggung atau siaran televisi, pastikan penerjemah terlihat jelas oleh penonton. Pencahayaan yang memadai diperlukan, tetapi intensitasnya tidak boleh terlalu terang sehingga penerjemah tidak menjadi pusat perhatian utama.
Cahaya yang terlalu kuat juga berisiko mengganggu penglihatan penonton yang sebagian besar penyandang tuli.
Atur Ritme dan Intonasi
Berbicaralah dengan kecepatan normal, tidak terburu-buru. Untuk mengisyaratkan sebuah kata atau kalimat, penerjemah memerlukan waktu lebih lama dibandingkan bahasa lisan.
Jika bicara terlalu cepat, penerjemah biasanya akan memberikan tanda agar kita memperlambat tempo. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada kata atau kalimat yang terlewat, sehingga menghindari potensi salah paham.
Tidak Bercakap-cakap di Luar Konteks Profesional
Situasi profesional adalah saat jasa penerjemah dilibatkan dalam percakapan dengan penyandang tuli. Selama kondisi ini berlangsung, hindari membahas hal-hal di luar konteks.
Agar pembicaraan tetap terarah, tidak ada salahnya memberikan salinan materi terlebih dahulu kepada penyandang tuli maupun penerjemahnya.
Tidak Membatasi Penerjemah
Penerjemah profesional akan menerjemahkan semua yang kita sampaikan kepada penyandang tuli, termasuk hal-hal yang menurut kita sepele. Jangan meminta penerjemah untuk menghilangkan kata atau kalimat tertentu hanya karena kita merasa hal tersebut tidak layak didengar oleh lawan bicara.
Kesimpulan
Demikian tata tertib bekerja sama dengan penerjemah bahasa isyarat. Suatu saat, jika kita berkesempatan bekerja sama dengan mereka, kita bisa memperluas komunikasi dengan para pengguna bahasa isyarat sekaligus mendukung inklusivitas.
FAQ
Apa itu penerjemah bahasa isyarat?
Penerjemah bahasa isyarat adalah seseorang yang bertugas menerjemahkan komunikasi antara bahasa isyarat dan bahasa lisan secara langsung agar kedua pihak dapat saling memahami.
Apa perbedaan penerjemah dan interpreter bahasa isyarat?
Interpreter bahasa isyarat menerjemahkan secara langsung (real-time), sedangkan penerjemah biasanya bekerja pada teks tertulis. Dalam praktiknya, istilah interpreter lebih sering digunakan.
Kapan membutuhkan penerjemah bahasa isyarat?
Penerjemah bahasa isyarat dibutuhkan dalam berbagai situasi seperti acara resmi, pendidikan, layanan kesehatan, persidangan, hingga kegiatan publik yang melibatkan penyandang tuli.
Bagaimana cara berkomunikasi dengan penyandang tuli melalui penerjemah?
Tetap berbicara langsung kepada penyandang tuli, bukan kepada penerjemah, serta gunakan bahasa yang jelas dan tidak terlalu cepat agar mudah diterjemahkan.
Artikel ini telah diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh tim Parakerja.