Bahasa memegang peranan penting dalam komunikasi. Bahasa memungkinkan setiap orang saling terhubung satu sama lain dan berbagi berita maupun pesan. Menurut Ethnologue, ada sekitar 7.000 bahasa pengantar komunikasi di dunia. Namun secara garis besar, bahasa umumnya terbagi dua, yakni bahasa tutur dan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat digunakan oleh kelompok tertentu, seperti penyandang tuli, penyandang disabilitas bicara, dan orang-orang yang mengalami hambatan berbicara karena suatu kondisi medis (disartria). Tidak jarang terjadi, penyandang tuli harus berkomunikasi dengan penutur lisan yang tidak menguasai bahasa isyarat. Di sinilah peran penerjemah bahasa isyarat diperlukan sebagai jembatan antara kedua pihak.

Siapa Penerjemah Bahasa Isyarat?

Profesi penerjemah bahasa isyarat semakin menjadi sorotan. Kemunculannya semakin sering terlihat, terutama sejak program-program inklusif diterapkan di banyak negara, baik dalam acara televisi, seminar, rapat, hingga persidangan.

Meski secara luas dikenal sebagai penerjemah, dalam dunia profesional mereka lebih tepat disebut sebagai juru bahasa isyarat (interpreter). Hal ini karena tugas mereka adalah mengalihkan bahasa secara langsung (real-time), berbeda dengan penerjemah teks tertulis.

Di Indonesia, juru bahasa isyarat dapat berasal dari berbagai latar belakang pendidikan. Persyaratan untuk menjadi penerjemah di Indonesia memang relatif lebih sederhana dibandingkan beberapa negara lain.

Sebagai gambaran, untuk menjadi juru bahasa isyarat resmi di Amerika Serikat, seseorang harus menempuh pendidikan tinggi dengan disiplin ilmu terkait, dengan masa belajar yang umumnya mencapai 3-4 tahun. Sejak Juli 2012, Registry of Interpreters for the Deaf (RID) telah menetapkan standar yang ketat, di mana kandidat Sertifikasi Nasional wajib memiliki gelar minimal Sarjana. Mayoritas calon profesional di sana menempuh Interpreter Education Programs (IEP) yang spesifik untuk memastikan kualitas dan akurasi komunikasi yang dihasilkan.

Sementara itu, di Indonesia tidak ada ketentuan baku bahwa juru bahasa isyarat harus seorang sarjana. Yang terpenting adalah menguasai bahasa isyarat sesuai komunitas penyandang tuli, terbiasa berbaur dengan komunitas tersebut, memahami tradisi yang berkembang dalam keseharian mereka, serta memiliki ekspresi yang jelas.

Bagi penyandang tuli atau orang dengan hambatan bicara lainnya, penerjemah adalah alat komunikasi penting antara mereka dan penutur lisan. Penerjemah bertugas menerjemahkan bahasa isyarat ke bahasa lisan dan sebaliknya, termasuk menyampaikan segala sesuatu yang telah diisyaratkan penyandang tuli kepada penutur lisan. Untuk memahami lebih jauh bagaimana profesi ini berkembang di Indonesia, simak artikel kami tentang prospek karier juru bahasa isyarat di Indonesia.

Kerja Sama Efektif dengan Penerjemah Bahasa Isyarat

Dalam menjalankan tugasnya, penerjemah dapat bekerja sama dengan siapa saja sesuai kesepakatan kerja, baik paruh waktu maupun dengan ikatan kontrak tahunan. Meski mereka dilibatkan dalam suatu kepentingan, posisi penerjemah tidak boleh lebih dominan dari pihak yang mereka wakili karena dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Lantas, bagaimana cara bekerja sama yang baik dengan penerjemah bahasa isyarat? Berikut tata tertib yang perlu diperhatikan.

Tetap Fokus pada Lawan Interaksi Utama

Saat menggunakan jasa penerjemah bahasa isyarat, ingatlah bahwa ia bukan lawan interaksi utama. Lawan bicara sebenarnya adalah penyandang tuli. Arahkan pandangan kepada penyandang tuli seolah-olah kedua pihak saling memahami, dan biarkan penerjemah menjalankan tugasnya tanpa perlu terlalu diperhatikan.

Berbicara dengan Aksen yang Sewajarnya

Berbicaralah kepada penyandang tuli dengan cara yang wajar, seakan sedang berbicara langsung kepada mereka. Beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari karena menunjukkan kebingungan peran:

  • “Tolong beritahu dia tentang yang saya katakan.”
  • “Apakah dia mengerti yang saya bilang?”
  • “Sepertinya dia tidak mengerti, tolong ulangi lagi yang saya katakan tadi kepadanya.”

Ambil Posisi Dekat Penerjemah

Posisi penerjemah juga bagian dari tata tertib. Idealnya, penerjemah berdiri di samping penutur lisan. Dengan posisi ini, penutur lisan dapat mendengar penerjemah dengan jelas, sedangkan penyandang tuli dapat dengan mudah melihat gerakan tangan dan ekspresi wajah penerjemah.

Tempatkan Pencahayaan yang Memadai

Untuk kebutuhan panggung atau siaran televisi, pastikan penerjemah terlihat jelas oleh penonton. Pencahayaan yang memadai diperlukan, tetapi intensitasnya tidak boleh terlalu terang sehingga penerjemah tidak menjadi pusat perhatian utama. Cahaya yang terlalu kuat juga berisiko mengganggu penglihatan penonton yang sebagian besar penyandang tuli.

Atur Ritme dan Intonasi

Berbicaralah dengan kecepatan normal, tidak terburu-buru. Untuk mengisyaratkan sebuah kata atau kalimat, penerjemah memerlukan waktu lebih lama dibandingkan bahasa lisan. Jika bicara terlalu cepat, penerjemah biasanya akan memberikan tanda agar kita memperlambat tempo. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada kata atau kalimat yang terlewat sehingga menghindari potensi salah paham.

Tidak Bercakap-cakap di Luar Konteks Profesional

Situasi profesional adalah saat jasa penerjemah dilibatkan dalam percakapan dengan penyandang tuli. Selama kondisi ini berlangsung, hindari membahas hal-hal di luar konteks. Agar pembicaraan tetap terarah, tidak ada salahnya memberikan salinan materi terlebih dahulu kepada penyandang tuli maupun penerjemahnya.

Tidak Membatasi Penerjemah

Penerjemah profesional akan menerjemahkan semua yang kita sampaikan kepada penyandang tuli, termasuk hal-hal yang menurut kita sepele. Jangan meminta penerjemah untuk menghilangkan kata atau kalimat tertentu hanya karena kita merasa hal tersebut tidak layak didengar oleh lawan bicara.

Perlu dicatat bahwa setiap JBI terikat oleh kode etik profesi yang mengatur hal-hal seperti akurasi terjemahan, netralitas, dan larangan memotong pembicaraan. Untuk memahami lebih lanjut aturan yang mengikat profesi ini, baca panduan lengkap kami mengenai kode etik juru bahasa isyarat.

Kesimpulan

Bekerja sama dengan penerjemah bahasa isyarat bukan sekadar soal teknis posisi dan tempo bicara. Ini juga soal memahami bahwa penyandang tuli berhak mendapatkan akses komunikasi yang setara, dan penerjemah adalah orang yang membantu mewujudkan hak itu. Andai suatu saat kita berkesempatan bekerja sama dengan mereka, tata tertib di atas akan membantu memastikan proses komunikasi berjalan lebih baik bagi semua pihak.

Bagi institusi atau perusahaan yang ingin menghadirkan layanan JBI secara profesional, simak informasi layanan kami di halaman Indonesia Sign Language Interpreter.

FAQ: Tata Tertib Bekerja Sama dengan Penerjemah Bahasa Isyarat

Apa itu penerjemah bahasa isyarat dan apa bedanya dengan interpreter?

Penerjemah bahasa isyarat adalah seseorang yang bertugas menjembatani komunikasi antara bahasa isyarat dan bahasa lisan. Dalam lingkup profesional, mereka lebih tepat disebut sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI) atau interpreter, karena bekerja secara langsung (real-time), berbeda dengan penerjemah teks tertulis yang bekerja pada naskah.

Apa perbedaan syarat menjadi JBI di Indonesia dan Amerika Serikat?

Di Amerika Serikat, calon JBI wajib memiliki gelar sarjana dan biasanya menempuh program pendidikan khusus selama 3-4 tahun. Di Indonesia, tidak ada ketentuan baku soal latar belakang pendidikan. Yang lebih diutamakan adalah penguasaan bahasa isyarat, kedekatan dengan komunitas tuli, pemahaman budaya mereka, dan kejelasan ekspresi saat berisyarat.

Kapan membutuhkan jasa penerjemah bahasa isyarat?

JBI dibutuhkan dalam berbagai situasi yang melibatkan penyandang tuli, seperti acara resmi, layanan kesehatan, pendidikan, persidangan, siaran televisi, hingga kegiatan publik lainnya.

Bagaimana cara berbicara yang benar saat menggunakan jasa JBI?

Tetap arahkan pandangan dan berbicara langsung kepada penyandang tuli, bukan kepada penerjemah. Gunakan kecepatan bicara yang normal, hindari kalimat yang secara tidak langsung menempatkan penerjemah sebagai lawan bicara utama, dan jangan meminta penerjemah untuk menyaring atau menghilangkan bagian tertentu dari percakapan.

Apakah penerjemah bahasa isyarat boleh menolak menerjemahkan sesuatu?

Secara kode etik, JBI tidak boleh menghilangkan atau menyaring informasi atas permintaan salah satu pihak. Mereka wajib menerjemahkan seluruh isi percakapan secara akurat dan netral. Pengecualian hanya berlaku dalam kondisi tertentu yang memang sudah diatur dalam standar profesi.

Bagaimana cara mendapatkan jasa JBI yang profesional untuk acara atau institusi?

Parakerja menyediakan layanan Juru Bahasa Isyarat profesional untuk berbagai kebutuhan, mulai dari seminar, layanan publik, hingga acara korporat. Informasi lengkap mengenai layanan ini dapat diakses langsung melalui halaman Indonesia Sign Language Interpreter di situs Parakerja.


Artikel ini terakhir ditinjau dan diperbarui oleh Tim Parakerja pada 26 Maret 2026 untuk memastikan keakuratan informasi dan kesesuaian dengan perkembangan profesi juru bahasa isyarat terkini.