Kisah Unik di Balik Terciptanya Perangkat Braille

Awal abad ke-19, atau tepatnya pada tanggal 4 Januari 1809, lahir seorang bayi laki-laki di Coupvray, Perancis. Louis Braille, itulah nama yang diberikan orang tuanya. Nama yang kelak berperan besar dalam menciptakan perangkat Braille, sebuah sistem tulisan bagi penyandang tunanetra.

Meskipun perangkat Braille bukan satu-satunya sistem tulisan bagi tunanetra, sistem yang dikembangkan oleh Louis ini tetap relevan hingga sekarang. Lebih dari 40 juta penyandang tunanetra di seluruh dunia sangat terbantu. Mereka dapat membaca, menulis, dan berkomunikasi melalui tulisan layaknya orang tanpa disabilitas.

Itulah sebabnya, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) kemudian menetapkan tanggal 4 Januari sebagai hari Braille dunia. Bentuk apresiasi tertinggi atas jasa dan dedikasi Louis Braille semasa hidupnya.

Hilang Penglihatan Semasa Kecil

Ketika masih bayi hingga memasuki masa kanak-kanak, Louis menjalani masa kecilnya seperti anak-anak lainnya. Bermain, belajar, dan beraktivitas dengan penuh keceriaan. Tapi semua itu seketika berubah saat kecelakaan menimpa dirinya. Tanpa sengaja, mata Louis tergores pisau sehingga mengalami kebutaan permanen.

Bisa terbayang bagaimana gelapnya kehidupan Louis. Tak hanya gelap secara tersurat karena tak lagi bisa melihat, tapi juga gelap secara tersirat. Masa depan Louis seakan turut gelap gulita. Akses terhadap pendidikan menjadi sangat sulit karena Louis tidak bisa membaca tulisan apa pun, apalagi menulis.

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena orang tua Louis bukan dari orang berada. Ayah Louis berprofesi sebagai tukang sepatu. Sehari-harinya bergelut dengan pisau pemotong kulit yang menyebabkan kebutaan pada mata Louis. Selain itu, Coupvray pada masa itu adalah kota kecil. Akses pendidikan masih sangat minim apalagi bagi tunanetra seperti Louis. 

Namun, Louis tidak berpatah arang. Kondisi serba sulit yang ia jalani tak membuatnya menyerah. Sekuat tenaga Louis tetap belajar membaca dan menulis walau dengan segala keterbatasan dan kesulitan. 

Ketika itu, tulisan bagi tunanetra berupa huruf timbul (embossed) pada kertas tebal. Huruf ini merupakan perwujudan dari aksara latin yang disederhanakan sehingga bisa terbaca oleh tunanetra. Valentin Hauy dan Dr. William Moon, dua orang inilah yang berjasa memperkenalkan jenis tulisan embossed itu.    

Pertemuan yang Mengubah Dunia

Walau sudah ada sistem tulisan yang Hauy dan Moon kenalkan, tapi pada praktiknya hanya segelintir tunanetra mampu menguasai tulisan tersebut. Karena huruf timbul yang menggunakan abjad latin seperti bentuk aslinya itu, sukar dikenali oleh sebagian besar penyandang tunanetra. Alhasil, pendidikan bagi tunanetra masih menemui banyak kendala.

Begitu pula yang Louis alami. Tapi, sebuah pertemuan yang tidak menyangkanya mengubah semuanya. Bukan hanya bagi kehidupan Louis pribadi, tapi juga nasib penyandang tunanetra di seluruh dunia.      

Saat usianya sekitar 12 atau 13 tahun, Louis bertemu dan berkenalan dengan Kapten Charles Barbier. Ia adalah mantan perwira artileri Napoleon, pemimpin militer terbesar bangsa Perancis. Charles Barbier mengajari Louis kecil tulisan sandi yang bernama ‘tulisan malam’. Sebagaimana namanya, ‘tulisan malam’ memang berguna pada malam hari yang minim penerangan atau tanpa cahaya.

Barbier menciptakan tulisan ini untuk keamanan pasukannya pada saat peperangan. Dengan menguasai ‘tulisan malam’, pasukan Barbier bisa saling berkomunikasi di medan peperangan pada malam hari tanpa khawatir ketahuan oleh musuh. Tulisan tersebut menggunakan pola titik dan garis timbul yang dirancang untuk diraba dengan jari. Hanya cukup merabanya, tanpa atau minim cahaya, pesan dari tulisan tersebut bisa terpahami.

Terkesima oleh tulisan ciptaan Barbier, Louis kecil sangat antusias mempelajarinya. Ia yakin, ‘tulisan malam’ ini bisa menjadi terobosan sangat berarti bagi perkembangan tulisan tunanetra. Namun, seiring waktu Louis menyadari, ‘tulisan malam’-nya Barbier masih memiliki kekurangan. Ia pun berupaya melakukan pengembangan dan inovasi sehingga tulisan tersebut sempurna untuk digunakan.

Sempurna Kala Usia 20 Tahun

Walau efektif dalam menyampaikan pesan berupa perintah militer, ‘tulisan malam’ kurang cocok untuk keperluan membaca dan menulis sehari-hari. Masih terlalu sederhana untuk kebutuhan pendidikan.  

Louis juga menemukan jika penyandang tunanetra lebih mudah mengenali pola berupa titik daripada garis. Ujung-ujung jari manusia ternyata lebih peka terhadap titik daripada garis. Louis pun lalu menghapus pola berupa garis dalam perangkat Braille yang ia ciptakan. 

Dalam pengembangan selanjutnya, Louis merancang pola titik yang menyerupai susunan kartu domino. Yakni dua kolom vertikal dan tiga baris horizontal, total 6 titik dalam konfigurasi 2×3 yang kemudian dikombinasikan membentuk pola-pola tertentu. 

Pada usia 20 tahun, Louis berhasil menyempurnakan perangkat Braillenya. Ia menciptakan sistem tulisan untuk tunanetra berupa 63 pola titik timbul yang merepresentasikan angka, abjad, hingga tanda baca bagi kebutuhan membaca dan menulis.

Dedikasi tanpa Apresiasi

Singkat cerita, Louis mendapat kepercayaan sebagai pengajar L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, lembaga nasional untuk anak-anak tunanetra di Paris. Louis lalu mempraktikkan perangkat Braille untuk anak didiknya dan mendapat respon luar biasa. Mereka dapat dengan mudah menguasai tulisan Braille sehingga kemampuan membaca dan menulis meningkat pesat.

Namun sayangnya, keberhasilan Louis tidak mendapat apresiasi dari tempatnya mengajar. Bahkan pihak sekolah melarang penggunaan perangkat Braille yang ia ajarkan karena berbeda dengan tulisan tunanetra pada umumnya. 

Sistem Braille sudah diajarkan secara diam-diam sejak lebih awal oleh Louis. Tulisan ini berkembang pesat, tidak hanya diajarkan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, tapi juga merambah ke seantero Perancis.  

Pada tahun 1851, Kepala L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Dr. Dufau menyadari kelebihan sistem tulisan yang tercipta oleh Louis ini. Ia pun berinisiatif mengajukan perangkat Braille, hasil dedikasi Louis agar memperoleh pengakuan dan tanda jasa dari pemerintah. 

Ironisnya, hingga akhir hayatnya pada 6 Januari 1852, dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-43, Louis belum juga menerima pengakuan resmi. Pengakuan resmi sistem Braille di INJA baru terjadi pada 1854, dua tahun setelah Louis meninggal. Namun, apresiasi dari pemerintah tidak pernah ia peroleh. Setelah puluhan tahun kemudian, barulah perangkat Braille diakui secara universal. Mendapat tempat di seluruh dunia dan hingga kini tetap eksis bertahan. 

Kesimpulan

Parakerja saat ini terus berkomitmen untuk memberikan aksesibilitas pada penyandang disabilitas. Hal ini terlihat dari salah satu layanan Parakerja yakni Braille Services yang dapat digunakan dalam beberapa media perlengkapan/peralatan, seperti: Buku, Panduan, Petunjuk Arah, Brosur, kartu Nama dan akses kebutuhan lainnya. Media braille yang akan digunakan, dirancang oleh pengrajin dari Teman Netra yang sudah berpengalaman dan mempelajari sistem braille dari representasi huruf, angka dan simbol.