Layanan-Juru-Bahasa-Isyarat-Di-Parakerja

Peluang karier sebagai juru bahasa isyarat (JBI) di Indonesia masih tergolong sempit. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat kebutuhan terhadap juru atau penerjemah bahasa isyarat  sehingga profesi ini kurang populer dibandingkan dengan profesi seperti juru bahasa asing, guru, dosen, banker, atau dokter, yang lebih sering terlihat.

Namun, beberapa tahun ke depan, juru bahasa isyarat diperkirakan akan semakin banyak dilibatkan, terutama dalam agenda-agenda pemerintah. Saat ini, pemerintah sedang menggencarkan program-program inklusi, tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di ruang publik lainnya.

Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, prospek karier sebagai juru bahasa isyarat terus meningkat. Jika rata-rata profesi lain tumbuh sekitar 7%, profesi sign language interpreter bertumbuh hingga 17% per tahun. Ini menunjukkan bahwa profesi juru bahasa isyarat di sana mendapat pengakuan yang baik, serta mencerminkan inklusi sosial yang sudah berjalan dengan efektif.

Siapa yang Bisa Menjadi Juru Bahasa Isyarat?

Juru bahasa isyarat adalah orang yang mampu menerjemahkan bahasa lisan ke dalam gerakan isyarat, dan sebaliknya. Kemampuan ini termasuk keterampilan yang diasah melalui latihan, baik melalui kelas bahasa isyarat maupun pergaulan dengan insan tuli dan tunawicara.

Profesi JBI terbuka untuk siapa saja, baik penyandang disabilitas maupun non-disabilitas. Selama memiliki keterampilan bahasa isyarat, setiap orang berpeluang berkarier di bidang ini.

Di Indonesia, kualifikasi JBI relatif lebih mudah dibandingkan di luar negeri. Misalnya, di Amerika, seorang JBI harus berasal dari disiplin ilmu yang linier dengan profesi ini, memiliki setidaknya tiga tahun pendidikan bahasa isyarat, serta pengalaman mengikuti pelatihan dan sertifikasi. Sementara di Indonesia, JBI bisa berasal dari berbagai disiplin ilmu, bahkan seorang dokter pun dapat menjadi JBI, asalkan mahir menggunakan bahasa isyarat yang terstandarisasi dan akrab dengan kehidupan insan tuli dan tunawicara.

Sertifikasi dan lisensi adalah poin tambahan yang dapat memuluskan langkah JBI menuju jenjang karier yang lebih tinggi. Semakin tinggi karier seorang JBI, semakin sering ia dilibatkan dalam agenda penting.

Faktor Penyebab Rendahnya Standar Kualifikasi JBI di Indonesia

Rendahnya standar kualifikasi JBI di Indonesia memiliki dua sisi. Di satu sisi, ini menjadi peluang bagi siapa saja yang ingin berkarier dan mendapatkan pengalaman baru. Namun di sisi lain, hal ini menimbulkan kekhawatiran apakah profesi ini nantinya akan dipenuhi oleh SDM yang minim pengalaman.

Meskipun demikian, sejauh ini juru bahasa isyarat di Indonesia tetap layak diandalkan. Mereka bukan hanya terlibat dalam agenda lokal, tetapi juga kegiatan internasional. Artinya, mereka yang terpilih adalah individu dengan keterampilan bahasa isyarat yang mumpuni.

Beberapa alasan di balik rendahnya standar kualifikasi JBI di Indonesia adalah:

  • Belum Optimalnya Pelaksanaan Program Inklusi: Program inklusi belum terlalu berjalan di Indonesia, terutama di tingkat kabupaten. Partisipasi penyandang disabilitas dalam acara-acara resmi masih minim, sehingga kebutuhan akan JBI belum terlalu besar.
  • Jumlah Orang yang Mahir Bahasa Isyarat Terbatas: Profesi ini masih dianggap kurang menarik, sehingga sedikit orang yang serius mempelajari bahasa isyarat. Bahkan di kalangan penyandang disabilitas sendiri, masih ada yang belum mahir menggunakan bahasa isyarat baku.
  • Persaingan Kerja yang Longgar: Karena jumlah orang yang menguasai bahasa isyarat terbatas, persaingan kerja di bidang ini tidak ketat. Di luar negeri, profesi ini cukup banyak peminatnya, sehingga persaingan menjadi lebih ketat.

Mengenal Jenis-jenis Juru Bahasa Isyarat

Mengenal Jenis-jenis Juru Bahasa Isyarat

Banyak orang tidak tahu bahwa sign language interpreter atau penerjemah bahasa isyarat memiliki beberapa jenis. Secara umum, jenis-jenis JBI dibedakan berdasarkan sistem kerja dan penempatannya:

  • Penerjemahan Berturut-turut
    Ini adalah jenis JBI yang biasa terlibat dalam kelompok kecil. Juru bahasa isyarat menunggu pembicara menyelesaikan ucapannya dalam satu babak singkat, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa isyarat. Sistem penerjemahan ini ideal untuk interaksi satu lawan satu.
  • Penerjemahan Estafet
    Dikenal juga sebagai penerjemah ad hoc, jenis ini dilibatkan dalam proses peradilan untuk mengungkap kebenaran. Untuk ini, JBI biasanya memiliki latar belakang hukum karena banyak istilah hukum yang perlu pemahaman khusus. JBI estafet bukan hanya menerjemahkan, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar agar penyandang disabilitas tidak dirugikan.
  • Penerjemahan Bahasa Isyarat Internasional
    Selain bahasa isyarat, JBI ini juga menguasai beberapa bahasa asing untuk menjembatani komunikasi penyandang disabilitas dari berbagai negara. Mereka sering dilibatkan dalam forum-forum internasional.
  • Penerjemah Simultan
    Jenis JBI ini mungkin yang paling sering kita lihat, misalnya pada program televisi seperti berita dan liputan acara penting. JBI simultan menerjemahkan secara real-time tanpa menunggu pembicara berhenti berbicara.
  • Penerjemahan Acara Pertunjukan
    Dalam pertunjukan bergengsi, panitia biasanya menugaskan JBI agar insan tuli dan tunawicara bisa menikmati acara tersebut. JBI ini perlu bersifat ekspresif dan percaya diri agar insan tuli dapat merasakan kesan yang sama seperti non-disabilitas.

Prospek Karier yang Menjanjikan

Dari uraian di atas, tergambar bahwa profesi juru bahasa isyarat adalah karier yang layak digeluti. Selain sebagai sumber penghasilan, profesi ini juga memberikan pengalaman berharga dalam mendalami kehidupan rekan-rekan disabilitas. Dengan terus meningkatnya kesadaran inklusi sosial di Indonesia, diharapkan peluang bagi para JBI juga akan semakin terbuka, baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Peningkatan program inklusi dan kebijakan pemerintah yang mendukung penyandang disabilitas akan membuka peluang lebih besar bagi profesi ini. Seiring waktu, standar kualifikasi bagi JBI di Indonesia juga dapat semakin tinggi untuk memastikan kualitas dan profesionalisme dalam pelayanan mereka.

Profesi ini memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat, khususnya dalam mewujudkan kesetaraan akses informasi bagi penyandang disabilitas. Dengan semangat inklusi yang terus berkembang, profesi juru bahasa isyarat berpotensi menjadi salah satu karier yang tidak hanya bermanfaat secara finansial tetapi juga memberikan makna dalam memperjuangkan hak-hak disabilitas di Indonesia.