Kursus BISINDO Online, Sebuah Alternatif Belajar Mandiri

Kursus BISINDO online terbuka bagi siapa saja yang ingin serius mempelajari bahasa isyarat. Namun, peminat kursus online umumnya mengarah pada mereka yang terbatas waktu dan gerak. 

Saat ini, bahasa isyarat tidak hanya dibutuhkan oleh penyandang disabilitas. Sebagian orang yang bukan penyandang disabilitas juga membutuhkannya karena tuntutan profesi dan memperluas komunikasi. Contohnya adalah perawat, guru atau dosen, pramugari, peneliti, dan profesi lain yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Mempelajari bahasa isyarat sebenarnya tidak terlalu sulit, terutama BISINDO. BISINDO merupakan jenis bahasa isyarat yang tercipta dari kebiasaan-kebiasaan kaum disabilitas ketika berkomunikasi. Bagi pemula atau non-disabilitas, BISINDO relatif lebih mudah dipahami. Bahkan hanya dengan mengikuti kursus BISINDO online, siapa saja bisa mempelajarinya secara mandiri di rumah. 

Namun, ada beberapa hal terkait bahasa isyarat yang mungkin tidak dibahas dalam kursus BISINDO. Salah satunya tentang kaidah dasar seputar bahasa isyarat itu sendiri.

9 Kaidah Dasar dalam Penggunaan Bahasa Isyarat

Sama halnya dengan bahasa lisan, bahasa isyarat pun punya kaidah-kaidah tersendiri yang kadang tidak selalu bersifat tertulis. Jika kaidah ini tidak diterapkan, komunikasi bisa terganggu—misalnya, terjadi kesalahpahaman atau ambiguitas.

Apa saja kaidah dasar yang berlaku dalam praktik bahasa isyarat? 

Menyesuaikan Bahasa Isyarat dengan Kebiasaan Setempat

Bahasa isyarat bukanlah bahasa universal. Setidaknya ada 200 jenis bahasa isyarat yang dipakai di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri hanya SIBI yang diakui secara resmi oleh pemerintah, sementara BISINDO lebih umum digunakan oleh komunitas Tuli. Di luar dua jenis tersebut, bahasa isyarat lain tetap dapat digunakan, tetapi biasanya terbatas pada komunitas tertentu.

Begitu pula ketika kita sedang berada di negara lain. Materi yang kita pelajari dari kursus BISINDO online kemungkinan besar tidak akan terpakai. Sebab, negara lain juga punya bahasa isyarat masing-masing. 

Tanda Huruf Alfabet Berdasarkan Jenis Bahasa Isyarat 

Sama halnya dengan bahasa verbal, bahasa isyarat juga memiliki 26 huruf alfabet. Namun, penandaan setiap huruf berbeda tergantung jenis bahasa isyarat yang digunakan. 

Oleh karena itu, tetapkan terlebih dahulu jenis bahasa isyarat apa yang ingin dipelajari. Apakah BISINDO, BISI, ASL, atau BSL. Gunanya, agar kita bisa fokus pada penandaan bentuk huruf pada satu jenis bahasa isyarat saja. 

Pemahaman terhadap bentuk huruf penting agar kita bisa menggunakan isyarat dengan tepat.

Gerakan Tangan 

Bahasa isyarat cenderung bertumpu pada gerakan tangan. Namun, dalam hal gerakan tangan, SIBI dan BISINDO memiliki aturan berbeda. Secara umum, BISINDO menggunakan dua tangan, sedangkan SIBI lebih banyak menggunakan satu tangan—meskipun tidak selalu demikian.

Di kalangan penyandang disabilitas atau situasi non formal, bahasa isyarat dua tangan ini yang lebih sering dipakai. Namun dalam komunikasi yang sifatnya lebih formal, bahasa isyarat satu tangan dianggap lebih pantas. 

Membaca Ekspresi Wajah

Selain isyarat tangan, bahasa isyarat juga mencakup ekspresi wajah dan gestur tubuh. Tidak ada larangan menunjukkan tanda-tanda tertentu dari apa yang terdapat di wajah maupun gerak tubuh. Misal, gerakan bola mata, alis, bibir, mengangkat bahu, menggelengkan kepala, juga yang lainnya. Ini semacam tanda-tanda khusus untuk memperkuat informasi yang ingin disampaikan. 

Bagi pemula, membaca ekspresi wajah dapat membantu memahami pesan yang disampaikan lawan bicara. Meski ekspresi wajah turut berperan dalam bahasa isyarat, namun karena sifatnya fleksibel materi ini jarang ada di kursus BISINDO online.

Improvisasi Boleh Menyesuaikan Perubahan Zaman

Bahasa isyarat terus berkembang mengikuti zaman, dan sering kali disederhanakan secara teknis. Contohnya saja bahasa isyarat BISINDO. 

Dulu di rekan-rekan disabilitas hanya menggunakan bahasa isyarat BISINDO untuk berkomunikasi. Bisa dibilang, BISINDO terbentuk secara alami dari kebiasaan-kebiasaan setempat, tanpa teori khusus.

Seiring perkembangan zaman, muncullah konsep baru yang kita kenal dengan SIBI. Dari gerakan tangan, SIBI lebih praktis karena hanya menggunakan satu tangan saja. Tapi secara teori, SIBI tergolong lebih rumit. 

Perubahan dan penyederhanaan mungkin terus terjadi, tetapi tetap perlu dikaji bersama komunitas agar tidak mengganggu pemahaman bersama. Oleh karena itu, jika materi kursus BISINDO mengalami perubahan di masa depan, hal itu masih dapat diterima.

Bahasa Isyarat, Bahasa Visual

Bahasa isyarat merupakan bahasa visual. Ada juga yang mengistilahkannya dengan bahasa ikonik. Ini hal paling mencolok yang membedakannya dari bahasa lisan atau verbal. Dalam penggunaan bahasa lisan, terkadang kita tak perlu selalu melakukan kontak mata. Sebaliknya, dalam kaidah berbahasa isyarat, kontak mata sangat diharuskan ketika berinteraksi.

Kesehatan Otak Mempengaruhi Kemampuan Berbahasa Isyarat

Kemampuan berbahasa isyarat erat kaitannya dengan kondisi kesehatan otak. Ini hal lazim terjadi mengingat kemampuan bahasa lisan seseorang juga bisa saja bermasalah bila kondisi otak memburuk. 

Orang yang mengalami kerusakan otak, secara otomatis kemampuannya berbahasa isyarat akan merosot. Segala aturan tentang berbahasa isyarat buyar. Contohnya, orang yang terkena stroke atau alzheimer. 

Pada kondisi seperti itu, penggunaan bahasa isyarat dilakukan sebisanya sesuai kemampuan.

Tidak Ada Usia Minimal Untuk Belajar Bahasa Isyarat

Tidak memiliki aturan usia berapa seseorang baru boleh mempelajari bahasa isyarat. Bahasa isyarat dapat dilatih sedini mungkin. Bahkan ketika anak sudah menampakkan tanda-tanda gangguan pendengaran atau hambatan berbicara. Dengan catatan, bahasa isyarat yang diajarkan hanya untuk hal-hal yang paling mendasar terlebih dahulu.

Mengajarkan anak bahasa isyarat (atas alasan kebutuhan berkomunikasi) sedini mungkin diketahui berdampak positif pada keterampilan kognitifnya. Ketika beranjak besar, mereka tinggal menyesuaikan kembali dengan perkembangan bahasa isyarat di zaman itu. 

Bahasa Isyarat Bersifat Tetap dan Konsisten

Pada dasarnya, bahasa isyarat memiliki tata bahasa sendiri yang bersifat ajeg. Tidak bisa dipelintir atau dipelesetkan sebagaimana bahasa slang. Sebab, hal itu dikhawatirkan dapat mempengaruhi penafsiran makna.

Kesimpulan

Begitulah kaidah dasar dalam praktik bahasa isyarat. Tampak rumit, tapi banyak juga yang berhasil mempelajarinya sampai mahir. Kursus BISINDO online adalah salah satu cara untuk belajar bahasa isyarat secara mandiri melalui berbagai platform yang tersedia.

Bagi kamu yang tertarik untuk mengikuti kelasnya, Parakerja telah menghadirkan kelas BISINDO mulai dari level 1 hingga level korporat. Parakerja dapat membantu dalam memperbaiki juga meningkatkan keberagaman, kesetaraan, inklusivitas, serta aksesibilitas di lingkungan kerja dan tempat pelayanan publik. Kami memberikan konsultasi dan pelatihan bagaimana karyawan perusahaan dapat bekerjasama dan berkomunikasi dengan tenaga kerja disabilitas