Kursus Bahasa Isyarat SIBI, Bahasa Isyarat Resmi di Indonesia

Tak ada kata terlambat untuk belajar bahasa isyarat SIBI. Meski bahasa isyarat sudah lekat dalam kehidupan insan tuli dan penyandang disabilitas wicara lainnya, tidak semuanya terbiasa menggunakan SIBI dalam komunikasi sehari-hari.

SIBI disusun oleh pemerintah pada tahun 1970-an, sementara BISINDO terbentuk secara alami jauh sebelumnya. Oleh karena itu, insan tuli dan tunawicara umumnya lebih terbiasa menggunakan BISINDO. Kendati BISINDO lebih populer, pemerintah hanya memberlakukan SIBI dalam situasi formal seperti di SLB, acara kenegaraan, atau konvensi internasional.

Mengapa Kursus Bahasa Isyarat SIBI Penting di Era Sekarang?

Meski tidak wajib, mengikuti kursus bahasa isyarat SIBI merupakan nilai tambah, baik bagi penyandang disabilitas maupun non-disabilitas. Memiliki keterampilan berbahasa isyarat SIBI merupakan nilai tambah pada diri seseorang, baik penyandang disabilitas maupun tidak. 

Mengapa sepenting itu? Berikut beberapa alasannya:

Mengurangi Risiko Salah Tafsir

SIBI merupakan sistem yang mengadaptasi bahasa Indonesia lisan ke dalam bentuk isyarat berdasarkan alfabet manual (juga dikenal sebagai Sistem Bahasa Isyarat Manually Coded Indonesian). Pemerintah kemudian meresmikannya sebagai bahasa pengantar resmi dalam komunikasi antara insan tuli dan orang dengar. Sehingga terbentuk satu pemahaman yang sama dan penafsiran yang seragam saat berinteraksi. Tetapi dalam praktik sehari-hari, banyak Tuli tidak menggunakannya karena tidak mencerminkan bahasa alami mereka.

Berbeda dengan BISINDO yang terbentuk dari pengalaman para penggunanya. Inilah alasan mengapa pemahaman dan penafsirannya bisa berbeda-beda antar individu.

Memperluas Komunikasi dan Jaringan Sosial

SIBI dipakai dalam kegiatan-kegiatan formal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di dalamnya. Ini memungkinkan insan tuli untuk mengaktualisasikan diri lebih jauh dari apa terbayangkan selama ini.

Misal, mengikuti suatu perlombaan tingkat nasional, menghadiri seminar-seminar besar, studi banding, dan semacamnya. Tanpa keterampilan menggunakan SIBI, keterlibatan insan tuli dalam acara-acara besar dan formal sangat kecil. 

Bahasa Isyarat SIBI Lebih Sulit Daripada BISINDO

Pentingnya ikut kursus bahasa isyarat SIBI juga berkenaan dengan tingkat kerumitan belajarnya. SIBI sebenarnya dapat dipelajari secara mandiri atau autodidak. Tetapi, memang butuh waktu lebih lama untuk memahaminya ketimbang ikut kursus. 

Tingkat kerumitan SIBI cukup tinggi, bahkan bagi sebagian insan tuli sendiri. Pasalnya, dari segi aturan bahasa isyarat SIBI ini sangat ketat. Kosa katanya baku, sarat simbol, dan metafora. Dengan kata lain, bahasa isyarat SIBI tidak sefleksibel BISINDO.

BISINDO di kalangan penggunanya sebatas untuk menyampaikan informasi/pesan melalui isyarat sederhana yang tidak harus sama dengan bahasa lisan. Gerakan tangan dapat terbentuk secara spontan, inisiatif, maupun kesepakatan bersama. 

Selagi lawan bicara mengerti apa arti di balik isyarat tersebut, maka gerakannya dianggap benar. Contoh, kata “menganggur”. Cukup ditunjukkan dengan isyarat dua tangan menopang dagu. BISINDO memang bersifat variatif secara lokal, tetapi tetap memiliki tata bahasa dan struktur tersendiri. Selama perubahan itu hasil kesepakatan bersama dalam suatu komunitas maka sah untuk digunakan.

Hal yang sama tidak berlaku pada bahasa isyarat SIBI. Sebab, SIBI adalah transliterasi bahasa Indonesia lisan, bukan bahasa isyarat alami, dan lebih tepat disebut sistem komunikasi buatan. Artinya, gerakan tangan dalam SIBI harus sesuai dengan struktur bahasa lisan dan tidak boleh diubah. Masih dengan contoh yang sama, “menganggur”, maka tangan membuat gerakan huruf “me”, disusul kemudian gerakan membentuk buah anggur. 

Mempelajari SIBI sampai mahir memang butuh waktu cukup lama. Tetapi melalui kursus bahasa isyarat SIBI biasanya prosesnya akan terasa sedikit lebih mudah dan terukur ketimbang belajar otodidak. 

Mengantongi Sertifikat Kompetensi Untuk Modal Melamar Pekerjaan

Selain mendapatkan ilmu, kursus bahasa isyarat SIBI juga mengeluarkan sertifikat kompetensi di akhir program. Sertifikat tersebut merupakan bukti otentik bahwa seseorang telah menguasai bahasa isyarat SIBI sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. 

Sertifikat kompetensi ini dapat digunakan untuk melengkapi syarat melamar pekerjaan tertentu. Misal, lowongan kerja juru bahasa isyarat. 

Usia yang Tepat untuk Belajar SIBI

Memulai belajar isyarat sebaiknya pada usia dini. Berdasarkan penelitian, mengajarkan bahasa isyarat pada penyandang disabilitas di usia dini bermanfaat untuk kemajuan kognitifnya.

Ketika anak terdeteksi tuli, orang tua tidak boleh langsung menganggapnya tidak mampu berkomunikasi. Gunakan bahasa isyarat sebagai alternatif untuk mengajarkannya berkomunikasi dan berekspresi. Namun tentu dengan tingkat kesulitan sesuai usia anak. 

Di tahap awal memperkenalkan bahasa isyarat, umumnya masyarakat lebih memilih BISINDO. BISINDO memang lebih mudah dipahami oleh pembelajar awal. Namun sejak Pemerintah mengesahkan SIBI sebagai bahasa isyarat resmi, pemakaian BISINDO jadi terbatas di komunitas tertentu saja. Dengan demikian, cepat atau lambat, penyandang disabilitas tetap perlu menguasai SIBI agar dapat membaur di lingkungan yang lebih luas. 

Karena materinya terbilang cukup berat, maka kursus bahasa isyarat SIBI idealnya dimulai pada usia di atas 7 tahun. Itu pun sebaiknya kursus berbasis online agar para orangtua bisa ikut mendampingi. Sementara untuk di sekolah-sekolah khusus, praktik SIBI ini dimulai pada murid kelas 4. 

Strategi Belajar SIBI Agar Cepat Mahir

Strategi Belajar SIBI Agar Cepat Mahir

Mengikuti kursus bahasa isyarat SIBI adalah salah satu cara tercepat untuk menguasainya.  Tapi sadari juga bahwa kursus saja tidak akan memberi hasil optimal tanpa dibarengi strategi-strategi lainnya. 

Untuk itu, lakukan 3 strategi ini guna mengoptimalkannya:

  • Pilih aplikasi belajar SIBI yang paling praktis, kontennya berbobot, dan minim iklan. Aplikasi yang rumit dan sering mengalami gangguan dapat menurunkan semangat belajar pengguna. Adapun cara ini lebih diutamakan untuk yang memilih kursus jalur online. 
  • Jangan sembarang pilih tempat kursus hanya karena tergiur biaya murah. Lakukan survey terlebih dahulu, bagaimana reputasinya dan latar belakang pengajarnya. Selain untuk kenyamanan belajar, tempat kursus dengan sistem manajemen dan orang-orang yang terlibat didalamnya turut mempengaruhi baik-buruk hasil belajar murid. 
  • Ikuti pelatihan-pelatihan SIBI. Pemerintah cukup sering mengadakan pelatihan-pelatihan SIBI, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Rajin-rajinlah mencari informasi tentang agenda pelaksanaannya lalu jangan ragu untuk bergabung di dalamnya. Selain untuk melatih skill bahasa isyarat, pelatihan semacam ini juga baik untuk ajang silaturahmi dengan insan tuli atau penyandang disabilitas lainnya. 

Kursus bahasa isyarat SIBI bukan hanya berperan sebagai alat komunikasi resmi, tetapi juga menjadi peluang emas untuk aktualisasi diri. Bukan sekadar bahasa pengantar resmi di kalangan insan tuli, tapi juga peluang emas untuk aktualisasi diri di jenjang yang lebih tinggi.

Tertarik untuk mempelajarinya? Parakerja siap berkolaborasi dan memberikan program pelatihan tentunya lewat pelayanan IDEAS training. Sudah banyak perusahaan dan instansi pemerintahan telah bekerja sama dengan kami. Daftar segera!