Pada Wisuda Gelombang III Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Padjadjaran yang berlangsung 5 Mei 2026, ada satu momen yang membuat banyak hadirin berhenti sejenak. Seorang wisudawan berdiri di podium Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung, dan menyampaikan pidato perwakilan wisudawan bukan dengan suara, melainkan dengan gerakan tangan yang diinterpretasikan oleh Juru Bahasa Isyarat di sisinya.
Namanya Hasbi Ridla Ilahi, lulusan Program Studi Sarjana Terapan Kearsipan Digital. Ia tercatat sebagai wisudawan Tuli pertama yang dipercaya menyampaikan pidato perwakilan wisudawan sepanjang sejarah Unpad. Momen ini menarik perhatian banyak pihak, bukan hanya karena keunikannya, tetapi karena pesan yang ia sampaikan relevan bagi siapa saja yang peduli dengan inklusi pendidikan di Indonesia.
Contents
- 1 Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah
- 2 Aksesibilitas yang Mengubah Segalanya
- 3 Pesan untuk Calon Mahasiswa Disabilitas
- 4 Apa yang Bisa Dipelajari dari Momen Ini
- 5 Pentingnya Kampus Inklusif di Indonesia
- 6 Kesimpulan
- 7 FAQ: Mahasiswa Tuli Berpidato di Wisuda Unpad
- 7.1 Siapa Hasbi Ridla Ilahi dan apa yang membuatnya istimewa?
- 7.2 Bagaimana Hasbi menyampaikan pidatonya di hadapan ribuan hadirin?
- 7.3 Apa yang membuat Hasbi hampir mundur dari perkuliahan?
- 7.4 Apa yang akhirnya membuat Hasbi bertahan?
- 7.5 Apa pesan Hasbi untuk calon mahasiswa penyandang disabilitas?
- 7.6 Apa langkah konkret yang bisa diambil setelah membaca kisah ini?
Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah
Dalam pidatonya yang diinterpretasikan oleh Fransisca Octi dari Unit Layanan Disabilitas Unpad, Hasbi bercerita tentang tantangan yang ia hadapi sejak awal masa perkuliahan. Akses informasi menjadi hambatan utamanya.
“Bagi saya seorang Tuli, informasi sangat sulit saya dapatkan. Banyak tantangan yang saya hadapi, mengalami sejumlah hambatan dalam mengikuti perkuliahan di awal. Ada rasa ingin mundur karena merasa tidak sesuai. Saya merasa tidak cocok berada di sini,” ungkap Hasbi.
Kondisi ini sebenarnya bukan hal yang asing bagi mahasiswa Tuli di Indonesia. Lingkungan akademik umumnya belum sepenuhnya dirancang untuk mereka, mulai dari minimnya tenaga pendamping yang memahami bahasa isyarat hingga sistem penyampaian informasi yang masih bertumpu pada komunikasi lisan. Tantangan-tantangan inilah yang kerap membuat mahasiswa disabilitas merasa terasing di lingkungan kampus.
Aksesibilitas yang Mengubah Segalanya
Hasbi tidak jadi mundur. Ia memilih bertahan, dan alasannya berkaitan langsung dengan respons kampus terhadap kebutuhannya.
Unpad menyediakan Juru Bahasa Isyarat melalui Unit Layanan Disabilitas yang membantunya mengakses informasi baik di dalam maupun di luar kelas. Bagi Hasbi, keberadaan JBI bukan sekadar fasilitas tambahan. Itu adalah akses yang memungkinkannya mengikuti perkuliahan secara setara dengan mahasiswa lainnya.
“Unpad sudah berjuang untuk itu, terima kasih Unpad. Ke depannya, kita bisa bersama-sama untuk melangkah lebih inklusif lagi, memberi akses untuk semuanya,” ujar Hasbi dalam pidatonya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan rekan mahasiswa yang mendukungnya selama masa studi. Dukungan dari lingkungan sekitar, sekecil apa pun bentuknya, ternyata punya dampak yang cukup besar bagi mahasiswa disabilitas dalam menyelesaikan studinya.
Pesan untuk Calon Mahasiswa Disabilitas
Hasbi menutup pidatonya dengan mendorong calon mahasiswa Tuli dan penyandang disabilitas lainnya untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa kampus memiliki kepedulian dalam menyediakan fasilitas bagi semua kalangan, sehingga penyandang disabilitas pun bisa merasa nyaman menempuh pendidikan dan menggapai cita-citanya.
“Saya tuli, saya bisa wisuda hari ini, dan saya bangga,” tegasnya.
Pernyataan itu juga ditujukan kepada orang tua dan masyarakat luas. Hasbi mendorong semua pihak untuk memberikan dukungan dan kesempatan kepada teman-teman disabilitas dalam memperoleh hak pendidikan yang lebih baik. Perlu diperhatikan bahwa hambatan terbesar yang dihadapi mahasiswa disabilitas seringkali bukan datang dari keterbatasan diri mereka sendiri, melainkan dari lingkungan yang belum cukup mempersiapkan diri untuk menerima mereka.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Momen Ini
Kisah Hasbi memberikan gambaran nyata tentang apa yang bisa terjadi ketika kampus benar-benar menyediakan aksesibilitas yang dibutuhkan mahasiswa disabilitas. Ada beberapa hal yang layak menjadi perhatian bersama dari momen wisuda ini.
| Pelajaran | Maknanya bagi Kita |
|---|---|
| Aksesibilitas menentukan keberhasilan | Hasbi hampir mundur bukan karena tidak mampu, tetapi karena akses informasi yang minim. Ketika Unpad menyediakan JBI, ia bisa bertahan dan berhasil menyelesaikan studinya. |
| Unit Layanan Disabilitas bukan formalitas | Unpad membuktikan bahwa unit layanan disabilitas yang berfungsi nyata, bukan sekadar ada di atas kertas, bisa mengubah perjalanan studi seorang mahasiswa. |
| Dukungan lingkungan sangat berpengaruh | Dosen dan rekan mahasiswa yang suportif terbukti membantu mahasiswa disabilitas untuk tidak menyerah di tengah jalan. |
| Disabilitas bukan penghalang berprestasi | Hasbi tidak hanya berhasil lulus, ia dipilih sebagai perwakilan wisudawan dari ribuan mahasiswa yang ikut wisuda pada hari itu. |
Pentingnya Kampus Inklusif di Indonesia
Momen wisuda Hasbi seharusnya menjadi cermin bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Masih sangat sedikit kampus yang memiliki Unit Layanan Disabilitas yang berfungsi dengan baik, menyediakan Juru Bahasa Isyarat secara reguler, atau merancang lingkungan akademik yang benar-benar aksesibel bagi berbagai jenis disabilitas.
Padahal hak penyandang disabilitas atas pendidikan sudah dijamin secara eksplisit oleh undang-undang. Untuk memahami lebih lanjut apa saja yang seharusnya sudah terpenuhi, simak artikel kami tentang hak-hak penyandang disabilitas sebagai warga negara. Regulasi sudah ada. Yang masih perlu ditingkatkan adalah komitmen nyata dari setiap institusi untuk menjalankannya.
Sejalan dengan itu, bagi kampus yang ingin mulai membangun lingkungan lebih inklusif, salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah memastikan tersedianya tenaga yang memahami bahasa isyarat. Baca panduan lengkap kami mengenai fasilitas yang seharusnya tersedia bagi penyandang disabilitas di sekolah inklusi sebagai referensi awal.
Kesimpulan
Kisah Hasbi Ridla Ilahi bukan sekadar cerita seorang mahasiswa yang berhasil wisuda. Ini adalah bukti bahwa ketika kampus mau berjuang untuk aksesibilitas, penyandang disabilitas pun bisa berprestasi dan berkontribusi secara setara. Inklusi bukan sesuatu yang rumit untuk dimulai. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk benar-benar menyediakan apa yang dibutuhkan, bukan sekadar mengakuinya di atas kertas.
FAQ: Mahasiswa Tuli Berpidato di Wisuda Unpad
Siapa Hasbi Ridla Ilahi dan apa yang membuatnya istimewa?
Hasbi Ridla Ilahi adalah mahasiswa Tuli lulusan Program Studi Sarjana Terapan Kearsipan Digital Universitas Padjadjaran. Ia menjadi wisudawan Tuli pertama yang dipercaya menyampaikan pidato perwakilan wisudawan di Wisuda Gelombang III Tahun Akademik 2025/2026 pada 5 Mei 2026. Sepanjang sejarah Unpad, belum pernah ada wisudawan Tuli yang mendapat kepercayaan ini sebelumnya.
Bagaimana Hasbi menyampaikan pidatonya di hadapan ribuan hadirin?
Hasbi menggunakan bahasa isyarat yang diinterpretasikan secara langsung oleh Juru Bahasa Isyarat dari Unit Layanan Disabilitas Unpad bernama Fransisca Octi, sehingga seluruh hadirin dapat memahami setiap pesan yang ia sampaikan.
Apa yang membuat Hasbi hampir mundur dari perkuliahan?
Hasbi mengungkapkan bahwa akses informasi menjadi hambatan utamanya di awal perkuliahan. Sebagai penyandang Tuli, ia kesulitan mendapatkan informasi yang disampaikan secara lisan di lingkungan akademik. Kondisi ini membuatnya sempat merasa tidak cocok dan ingin keluar dari kampus.
Apa yang akhirnya membuat Hasbi bertahan?
Unpad menyediakan Juru Bahasa Isyarat melalui Unit Layanan Disabilitas yang membantu Hasbi mengakses informasi di dalam dan di luar kelas. Fasilitas inilah yang menjadi alasan utamanya memilih untuk bertahan dan menyelesaikan studinya hingga wisuda.
Apa pesan Hasbi untuk calon mahasiswa penyandang disabilitas?
Hasbi mendorong calon mahasiswa Tuli dan penyandang disabilitas lainnya untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia juga mengajak orang tua dan masyarakat untuk memberikan dukungan penuh agar teman-teman disabilitas bisa memperoleh hak pendidikan yang lebih baik.
Apa langkah konkret yang bisa diambil setelah membaca kisah ini?
Bagi pengelola institusi pendidikan, kisah Hasbi bisa menjadi titik awal untuk mengevaluasi apakah fasilitas aksesibilitas di lingkungan Anda sudah memadai. Bagi individu yang ingin berkontribusi, mempelajari bahasa isyarat adalah salah satu cara nyata untuk menjadi bagian dari lingkungan yang lebih inklusif bagi komunitas Tuli. Simak artikel kami tentang manfaat dan cara mendaftar kursus bahasa isyarat BISINDO sebagai langkah awal yang bisa dimulai hari ini.
Artikel ini ditulis dan diterbitkan oleh Tim Parakerja pada 7 Mei 2026 berdasarkan peristiwa wisuda Universitas Padjadjaran Gelombang III Tahun Akademik 2025/2026.