Jenis Disabilitas Mental pada Anak-anak

Jumlah individu dengan disabilitas mental mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2013 jumlah penyandang disabilitas secara umum tercatat 1,7% dari total populasi. Angka ini meningkat menjadi sekitar 7% pada tahun 2018. Namun, tidak semua dari angka tersebut mengacu pada disabilitas mental secara spesifik. Pada tahun 2020, sejumlah laporan menyebutkan adanya peningkatan jumlah penyandang disabilitas mental dibandingkan tahun 2018. Namun, angka pastinya dapat berbeda tergantung pada metode survei dan definisi yang digunakan. Yang memprihatinkan, data tersebut juga menunjukkan peningkatan kasus disabilitas mental pada kelompok usia anak-anak.

Disabilitas mental merujuk pada kondisi gangguan perkembangan atau fungsi mental yang berdampak pada kemampuan adaptasi dan aktivitas harian individu. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga dapat mengalami kondisi ini. Namun, masih banyak orang tua yang kurang memahami permasalahan ini. Akibatnya, mereka tidak menyadari bahwa anak sebenarnya membutuhkan bantuan yang sesuai dengan kondisinya. 

Kurangnya pemahaman orang tua mengenai disabilitas mental dapat membuat anak merasa semakin tertekan oleh lingkungannya.

Akibatnya, anak-anak ini cenderung mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, potensi diri tidak berkembang secara optimal, menjadi pribadi yang pemarah, krisis kepercayaan diri, mengalami stigma sosial, dan menunjukkan perilaku maladaptif lainnya.

Terdapat berbagai jenis disabilitas mental yang dapat dialami anak-anak. Bahkan, sebagian di antaranya tampak seolah gangguan yang wajar terjadi pada anak-anak. Untuk menghindari kesalahpahaman, mari kita kenali jenis-jenis penyandang disabilitas mental tersebut satu per satu.

Selective Mutism

Gangguan ini dikenal dengan singkatan SM (Selective Mutism). Selective Mutism merupakan gangguan kecemasan yang membuat seseorang tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu, meskipun sebenarnya mampu berbicara dalam situasi lain. Rasa cemas yang berlebihan membuat mereka tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu, meskipun mampu berbicara dalam konteks lain.

SM dapat terjadi pada kelompok usia mana pun. Namun, biasanya yang paling rentan mengalaminya adalah anak-anak usia 5 tahun ke atas. Gangguan ini bisa dikelola dan berkurang secara signifikan dengan penanganan yang tepat sejak dini, meskipun dalam beberapa kasus bisa berlangsung lama tanpa intervensi.

 Dengan deteksi dan penanganan dini, gejala khas SM dapat berkurang secara signifikan. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan selective mutism dapat berfungsi secara sosial dan akademik sebagaimana anak-anak lain seusianya.

Sebaliknya, membiarkan kondisi anak dengan SM tanpa penanganan justru memperburuk keadaan. Kecemasan yang berkepanjangan dapat menyebabkan stres, menarik diri dari lingkungan sosial, tidak produktif, bahkan berisiko melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).

ADHD 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf (neurodevelopmental) yang ditandai dengan kesulitan fokus, impulsif, dan perilaku hiperaktif. Tanda-tanda tersebut memang umum dijumpai pada banyak anak yang cenderung suka mengeksplorasi hal-hal baru. Itulah mengapa banyak orang tua menganggapnya sebagai hal yang wajar. 

Padahal, perilaku anak dengan ADHD sering kali melebihi batas toleransi perkembangan usia mereka. Beberapa perilaku tersebut bahkan dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, anak ADHD membutuhkan penanganan khusus agar perilakunya dapat dikelola secara efektif sesuai tahap perkembangan. 

Gangguan Makan

Beberapa gangguan makan dapat berawal dari pola makan yang sangat terbatas atau selektif. Namun, tidak semua anak yang picky eater akan mengalami gangguan makan. Faktor psikologis dan lingkungan juga berperan besar. 

Seiring bertambahnya usia, kebiasaan picky eater dapat berkembang menjadi gangguan makan yang lebih serius seperti anoreksia nervosa, bulimia, binge eating, hingga avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID). Gejala gangguan makan pada anak dapat berupa penolakan terhadap berbagai jenis makanan, memuntahkan makanan, atau memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap berat badan.

Autisme

Autisme merupakan salah satu disabilitas perkembangan yang sering dikenali dari ciri khas perilaku dan interaksi sosial. Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Meskipun beberapa faktor risiko dapat dikenali sejak masa kehamilan, diagnosis autisme hanya dapat ditegakkan setelah anak lahir dan menunjukkan gejala klinis.

Perkembangan anak dengan autisme umumnya lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Ciri khas autisme dapat mencakup kesulitan dalam mengelola emosi, seperti mudah cemas, kurang responsif terhadap lingkungan sekitar, atau menunjukkan perilaku repetitif.

Autisme merupakan kondisi neurodevelopmental yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikelola dengan intervensi yang tepat. Anak dengan autisme tetap dapat menerima terapi untuk merangsang fungsi otak dan mendukung tumbuh kembangnya. Bahkan, sudah banyak anak autis yang berhasil mencetak prestasi dari bidang-bidang yang disukainya.

Disleksia

Disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja, dan sering kali tidak disadari sejak dini. Disleksia lebih sering terdeteksi saat anak mulai belajar membaca dan menulis. Anak yang bukan penyandang disleksia wajarnya dapat mengucapkan kata pertama di usia 1-2 tahun. Namun, hal ini tidak terjadi pada anak dengan disleksia. Keterlambatan bicara di usia dini bisa menjadi indikasi awal, namun bukan satu-satunya tanda. Kondisi ini sering juga diistilahkan dengan speech delay. 

Banyak orang tua yang tidak menyadari keterlambatan tersebut adalah sebuah masalah. Akibatnya, terjadi pembiaran yang mengakibatkan anak tersebut semakin sulit mengucapkan kata demi kata sampai besar, mengingat alfabet, bahkan menyebut nama orang-orang terdekatnya sendiri.

Disleksia berbeda dari tunawicara. Anak dengan disleksia tidak kehilangan kemampuan bicara sepenuhnya, seperti halnya individu dengan gangguan bicara berat. Hanya saja, karena ketidakmampuan menyusun kata-kata yang tepat dan melafalkannya, maka artikulasi dari apa yang mereka ucapkan sulit orang lain mengerti. 

Itulah sebagian kecil jenis disabilitas mental yang dapat terjadi pada anak-anak. Penyebabnya tentu beragam. Mulai dari genetik, penyakit penyerta, hingga pengalaman traumatik. Peran serta orang tua sangat diperlukan di sini. Sebab orang tualah yang seharusnya paling peka terhadap tumbuh kembang anak dan perilaku yang diperlihatkannya. 

Dengan adanya kesadaran di awal, semua jenis disabilitas mental pada anak-anak ini bisa mendapat pemeriksaan dan penanganan secepatnya. Dengan demikian, anak-anak dengan disabilitas mental tetap memiliki kesempatan untuk bersosialisasi, mengembangkan potensi, dan meraih masa depan yang cerah.