Sejak pengesahan konvensi PBB tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas, sedikit-banyak membawa perubahan positif terhadap keberadaan dan kesejahteraan penyandang disabilitas sebagai individu bermartabat. Bahkan, berdasarkan data survei global UNDRR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction) tahun 2023 (sebagai tindak lanjut dari survei objek yang sama tahun 2013), dalam 10 tahun terakhir terdapat kemajuan terbatas pada penyandang disabilitas berkat implementasi inklusi di seluruh dunia.
Meski demikian, upaya mengentaskan isu-isu global mengenai penyandang disabilitas tetap harus berkelanjutan. Butuh perhatian dan kepedulian secara kolektif agar tidak ada celah bagi oknum untuk memperdaya kelompok rentan ini.
WHO, sebagai organisasi kesehatan terbesar di dunia, mengungkapkan 6 fakta terkait penyandang disabilitas. Fakta ini setidaknya dapat membuka mata kita tentang kondisi sulit yang mereka hadapi dan meluruskan opini keliru yang telanjur berkembang luas di masyarakat.
Contents
Jumlah Penyandang Disabilitas Terus Bertambah
Lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup sebagai penyandang disabilitas dalam berbagai kelompok usia dan jenis keterbatasan yang berbeda-beda. Dari total keseluruhan jumlah penyandang disabilitas, 720 juta di antaranya merupakan orang dewasa dan 93 juta anak-anak.
Secara global, program-program inklusi yang berjalan saat ini telah mengubah kualitas dan ketahanan hidup penyandang disabilitas. Salah satu buktinya terjadi di Vietnam. Dalam 3 dekade terakhir, kualitas hidup penyandang disabilitas di Vietnam membaik berkat dukungan dari banyak pihak.
Pada tahun 2023, USAID menyalurkan bantuan langsung kepada 26.000 penyandang disabilitas di sana untuk memperbaiki kualitas kehidupan mereka. Layanan sosial, rehabilitasi, dan advokasi untuk penyandang disabilitas juga sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Namun, meningkatnya kualitas dan ketahanan hidup penyandang disabilitas di seluruh dunia tidak lantas menghentikan laju pertambahan populasinya. WHO memprediksi pertambahan jumlah penyandang disabilitas di seluruh dunia masih akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, dipengaruhi oleh penuaan populasi dan prevalensi penyakit tidak menular.
Sebagian Belum Memiliki Jaminan Kesehatan
Separuh dari jumlah penyandang disabilitas di dunia sulit mendapat perawatan kesehatan sesuai kebutuhan akibat belum memiliki jaminan kesehatan (mandiri ataupun di bawah tanggungan negara). Di Indonesia, misalnya, baru sekitar 73,2% penyandang disabilitas yang terdaftar di JKN.
Ketiadaan jaminan kesehatan membuat mereka sulit mendapat pertolongan pertama saat dalam keadaan darurat. Mereka juga tak jarang menghadapi penolakan untuk dirawat karena pihak rumah sakit enggan mengambil risiko pada pasien tanpa jaminan kesehatan.
Realita ini tidak lantas membuat pemerintah menjadi satu-satunya pihak yang harus disalahkan. Sering kali, individu itu sendiri kurang proaktif pada program pemerintah. Tidak mau mengurus administrasi dengan alasan-alasan sederhana. Akibatnya, ketika membutuhkan layanan medis, mereka tidak memiliki perlindungan sama sekali dan berakhir pasrah.
Kebutuhan Anak-anak Disabilitas Masih Banyak Terabaikan
Terlahir sebagai penyandang disabilitas tentu bukan keinginan siapa pun. Namun, tidak ada yang dapat menolak kenyataan apabila itu terjadi. Mirisnya, kebutuhan anak-anak penyandang disabilitas masih banyak yang terabaikan, terutama di bidang layanan pendidikan dan kesehatan.
SLB dan sekolah-sekolah berbasis inklusi masih sangat terbatas. Sulitnya mencari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak disabilitas mengakibatkan mereka pada akhirnya tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya.
Peluang Kerja untuk Penyandang Disabilitas Masih Terbatas
Setiap negara memiliki regulasi tentang persentase penyerapan tenaga kerja disabilitas. Di Indonesia, setiap perusahaan wajib mempekerjakan 1-2 persen penyandang disabilitas dari total karyawan. Namun, pada kenyataannya, sejauh ini penerapan aturan tersebut belum mencapai ideal. Begitu pula di banyak negara lainnya. Itu mengapa peluang penyandang disabilitas untuk menganggur lebih besar daripada non-disabilitas.
Statistik global menunjukkan peluang kerja untuk penyandang disabilitas pria hanya sebesar 53%, sedangkan wanita 20%. Sementara kesempatan kerja pada non-disabilitas pria mencapai 65% dan wanita 30%.
Kesenjangan ini bahkan lebih mencolok di negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Penyandang disabilitas di negara-negara tersebut hanya memiliki peluang kerja sebesar 44%, sedangkan non-disabilitas mencapai 75%.
Kelompok Paling Rentan Terhadap Covid-19
Badai Covid-19 telah berlalu, namun sejarah pahit tersebut tak terlupakan oleh masyarakat dunia. Virus mematikan itu telah merenggut jutaan nyawa, termasuk penyandang disabilitas. Tercatat, 451 per 100 ribu penyandang disabilitas meninggal karena terpapar Covid-19.
Menurut riset, penyandang disabilitas memang termasuk dalam kelompok rentan. Meski dari luar mereka tampak sehat, sebagian besar memiliki imunitas yang rendah.
Covid-19 menimbulkan tiga kemungkinan terburuk pada penyandang disabilitas:
- Risiko tertular yang lebih besar daripada non-disabilitas.
- Penurunan kondisi kesehatan selama wabah berlangsung dan setelahnya.
- Gejala-gejala yang lebih berat hingga berujung kematian.
- Terbelenggu Kemiskinan
Sebagian besar penyandang disabilitas hidup di bawah garis kemiskinan dan kesulitan mengubah keadaan karena hambatan yang dimilikinya. Kemiskinan membuat mereka kekurangan asupan bergizi, bermukim di tempat yang kurang layak, memiliki sanitasi di bawah standar, dan minim pendidikan.
Kesimpulan
Kemiskinan juga menyebabkan mereka sulit mengakses informasi melalui internet, menggunakan berbagai layanan publik, dan berbaur dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Akibatnya, kehidupan mereka nyaris tidak menunjukkan kemajuan signifikan setiap tahunnya. Itulah fakta miris tentang penyandang disabilitas versi WHO. Perubahan bukanlah suatu hal yang mustahil selama kita semua bersedia menaruh kepedulian pada masa depan kelompok rentan tersebut.
