BANDUNG — Memberikan layanan prima bukan lagi sekadar soal kecepatan dan keramahan standar, melainkan tentang bagaimana setiap lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan hak aksesibilitas yang setara. Pada Jumat, 10 April 2026, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Dan Banten (Bank BJB) bekerja sama dengan Parakerja menyelenggarakan pelatihan intensif bertajuk Service Banking Academy: “Inclusive Service Excellence & Business Growth”.

Bertempat di Hotel Mercure Bandung, sebanyak 50 staf frontliner Bank BJB berkumpul untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai etika dan teknik pelayanan inklusif. Program ini bukan sekadar pelatihan rutin, melainkan langkah strategis yang selaras dengan Pedoman SETARA dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menciptakan ekosistem keuangan yang non-diskriminatif.

Membangun Kesadaran dan Empati melalui Interaksi Langsung

simulasi penggunaan kursi roda

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini dirancang agar peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga merasakan pengalaman langsung melalui roleplay dan simulasi.

Sesi dibuka dengan Disability Awareness yang dipimpin oleh Rezki Achyana (CEO & Founder Parakerja). Dalam sesi ini, peserta diajak memahami ragam disabilitas serta pentingnya prinsip Equality dan Equity dalam lingkungan kerja perbankan.

Selanjutnya, suasana kelas menjadi lebih dinamis saat Soniya Permata memandu materi mengenai aksesibilitas bagi nasabah Netra dan Low Vision. Para frontliner diajak mempraktikkan teknik Orientasi Mobilitas (OM), mulai dari penggunaan tongkat putih hingga pemanfaatan guiding block yang tepat di area kantor cabang.

Tidak berhenti di situ, Kak Angga memberikan wawasan mendalam mengenai etika berinteraksi dengan nasabah Disabilitas Fisik/Daksa. Melalui simulasi penggunaan kursi roda, para peserta belajar bagaimana memberikan bantuan yang responsif tanpa harus mengabaikan kemandirian nasabah.

Menembus Batas Komunikasi dengan BISINDO

Salah satu sorotan utama dalam agenda ini adalah sesi Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Dipandu oleh tim tutor Tuli lokal—Kak Joan, Kak Galih, dan Kak Refina—para peserta mulai mempelajari alfabet, sapaan dasar, hingga istilah-istilah khusus perbankan dalam bahasa isyarat.

Latihan ini bertujuan agar para frontliner Bank BJB sebagai garda terdepan memiliki kepercayaan diri dalam menyambut nasabah Tuli, sehingga tidak ada lagi hambatan komunikasi saat transaksi perbankan berlangsung.

Peningkatan Pengetahuan yang Signifikan

Efektivitas pelatihan ini tercermin jelas melalui data evaluasi yang dilakukan oleh tim Parakerja:

  • Pre-Test: Rata-rata nilai awal peserta berada di angka 77.27, menunjukkan adanya variasi pengetahuan dasar mengenai penanganan disabilitas.
  • Post-Test: Setelah mengikuti seluruh rangkaian sesi, nilai rata-rata melonjak menjadi 87.56 dengan persebaran nilai yang lebih homogen (seragam).

Hasil ini membuktikan bahwa metode pembelajaran interaktif yang diterapkan sangat efektif dalam meningkatkan kapasitas pegawai untuk menguasai materi Disability Handling dengan baik.

Langkah Nyata Menuju Perbankan Inklusif

Melalui Service Banking Academy ini, Bank BJB memperkuat reputasinya sebagai institusi keuangan yang menghormati keberagaman. Dengan staf yang lebih profesional dan responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas, diharapkan tercipta layanan jasa keuangan yang adil dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Karena pada akhirnya, inklusi bukan hanya soal fasilitas fisik, melainkan tentang kesiapan hati dan kompetensi setiap individu yang melayani.