Komunikasi yang berlangsung di tempat kerja bisa saja mengalami hambatan hanya karena perbedaan cara menyampaikan pesan. Salah satu cara mengatasinya adalah memahami BISINDO sebagai bagian dari komunikasi inklusif di perusahaan.
Dari sinilah pembahasan tentang apa itu isyarat BISINDO menjadi semakin menarik, terlebih di era saat ini ketika sudah banyak perusahaan yang inklusif. Terutama ketika perusahaan ingin membangun lingkungan kerja yang terbuka bagi semua orang. Topik apa itu isyarat BISINDO juga semakin sering dicari karena kesadaran mengenai aksesibilitas terus berkembang di berbagai sektor.
Apa Itu BISINDO?
BISINDO atau nama panjangnya Bahasa Isyarat Indonesia merupakan bahasa yang berkembang secara alami di komunitas Tuli. Bahasa ini digunakan dalam komunikasi sehari-hari dan memiliki karakter yang berbeda dengan bahasa lisan.
Sebagai bahasa alami, BISINDO tidak hanya mengandalkan gerakan tangan, tetapi juga ekspresi wajah dan bahasa tubuh sebagai bagian dari tata bahasanya. Karena tumbuh dari komunitasnya sendiri, BISINDO juga memiliki variasi antardaerah, mirip seperti dialek dalam bahasa lisan. Sejarah dan perkembangannya secara lengkap dapat ditelusuri dalam ulasan tentang pengertian, perkembangan, dan peran BISINDO dalam inklusi komunikasi.
BISINDO dan SIBI, Apakah Sama?
Ketika mencari informasi, banyak orang juga menemukan pembahasan mengenai apa itu BISINDO dan SIBI. Apakah keduanya sama? Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan bahasa isyarat, tetapi memiliki pendekatan yang berbeda.
BISINDO tumbuh dari penggunaan komunitas Tuli, sedangkan SIBI disusun dengan sistem yang mengacu pada struktur bahasa Indonesia. Karena itu, dalam percakapan sehari-hari komunitas Tuli, BISINDO jauh lebih banyak digunakan. Untuk perusahaan yang ingin berkomunikasi langsung dengan karyawan atau pelanggan Tuli, BISINDO umumnya menjadi pilihan yang lebih relevan. Perbandingan keduanya secara rinci dibahas dalam ulasan tentang perbedaan BISINDO dan SIBI.
Mengapa BISINDO Penting bagi Perusahaan?
Bagi perusahaan, memahami BISINDO bukan sekadar menambah wawasan. Hal ini berkaitan langsung dengan kualitas komunikasi. Coba bayangkan ketika ada karyawan atau tamu yang menggunakan bahasa isyarat, lalu tidak ada seorang pun yang memahami cara berinteraksi dengannya.
Situasi seperti ini tentu membuat penyampaian informasi menjadi kurang efektif. Sebaliknya, ketika perusahaan mulai mengenal BISINDO, komunikasi menjadi lebih mudah dan suasana kerja terasa lebih ramah bagi semua orang, termasuk teman-teman disabilitas. Berikut beberapa titik di mana manfaatnya paling terasa.
Kelancaran Komunikasi Internal
Instruksi kerja, pengumuman, hingga obrolan ringan di sela pekerjaan semuanya bergantung pada komunikasi. Ketika ada karyawan Tuli dalam tim, kemampuan dasar berbahasa isyarat membuat interaksi berjalan lebih cair. Karyawan tersebut tidak perlu selalu menunggu penjelasan tertulis, dan rekan kerjanya pun tidak lagi merasa canggung untuk memulai percakapan.
Kualitas Layanan kepada Pelanggan
Pemahaman terhadap BISINDO juga mencerminkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi pelanggan atau mitra bisnis dengan latar belakang yang beragam. Semakin banyak perusahaan inklusif di Indonesia yang memandang akses komunikasi sebagai bagian dari kualitas layanan. Langkah sederhana seperti memahami sapaan dasar atau menyediakan pendamping komunikasi sudah dapat memberikan pengalaman yang jauh lebih baik.
Kesiapan Merekrut Talenta Tuli
Banyak perusahaan ragu membuka posisi bagi kandidat Tuli karena merasa belum siap secara komunikasi. Ketika tim sudah mengenal BISINDO lebih dulu, keraguan itu berkurang dengan sendirinya. Perusahaan pun tidak perlu memulai dari nol saat hendak merekrut, sebagaimana dibahas dalam ulasan tentang bidang kerja yang cocok bagi penyandang disabilitas Tuli.
Penguatan Budaya Kerja
Banyak perusahaan inklusif di Indonesia mulai menyadari bahwa lingkungan kerja yang nyaman lahir dari komunikasi yang terbuka. Mereka tidak hanya memperhatikan fasilitas fisik, tetapi juga membangun budaya saling memahami antarkaryawan. Belajar bahasa isyarat sering kali menjadi momen ketika tim benar-benar memahami arti keberagaman, bukan sekadar mengucapkannya.
Di Mana BISINDO Paling Dibutuhkan dalam Operasional Perusahaan?
Agar penerapannya tidak terasa abstrak, berikut gambaran area kerja yang paling sering bersentuhan dengan kebutuhan komunikasi isyarat.
| Area Kerja | Kebutuhan Komunikasi yang Muncul |
|---|---|
| Resepsionis dan front office | Menyambut tamu Tuli dan mengarahkan keperluannya |
| Layanan pelanggan | Menjelaskan produk, harga, dan prosedur secara jelas |
| Tim HR dan rekrutmen | Wawancara, onboarding, dan penyampaian kebijakan |
| Supervisor dan rekan satu tim | Instruksi kerja harian dan koordinasi tugas |
| Keselamatan kerja | Prosedur darurat, evakuasi, dan peringatan keselamatan |
Poin terakhir sering kali paling terlupakan. Padahal dalam situasi darurat, informasi yang tidak sampai bisa berakibat fatal. Karena itu, sebagian perusahaan mulai memastikan minimal ada beberapa orang di setiap lantai atau divisi yang mampu berkomunikasi dasar dengan rekan Tuli.
“Perusahaan sering mengira harus menunggu punya karyawan Tuli dulu baru belajar BISINDO. Padahal urutannya bisa dibalik. Ketika timnya sudah siap berkomunikasi, membuka pintu bagi talenta Tuli terasa jauh lebih ringan, dan yang bergabung pun tidak merasa menjadi beban bagi rekan-rekannya.”
Rezki Achyana, Founder & CEO Parakerja
Tidak Harus Menjadi Ahli
Memang tidak semua orang di perusahaan harus menjadi ahli bahasa isyarat. Namun, mengenal kosakata dasar dan memahami cara berkomunikasi dengan hormat sudah merupakan langkah yang sangat berarti.
Untuk kebutuhan yang lebih kompleks, seperti rapat penting, pelatihan panjang, atau penjelasan kontrak, perusahaan tetap dapat menghadirkan juru bahasa isyarat profesional. Keduanya bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Kemampuan dasar staf menangani interaksi harian, sementara juru bahasa menangani situasi yang menuntut ketepatan tinggi.
Langkah awalnya pun bisa dimulai dari hal kecil, misalnya memperkenalkan alfabet isyarat dan sapaan dasar kepada tim, lalu berlanjut ke pelatihan yang lebih terstruktur sesuai kebutuhan bidang usaha Anda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa pentingnya belajar bahasa isyarat bagi karyawan?
Belajar bahasa isyarat membantu kelancaran komunikasi dengan rekan kerja maupun pelanggan Tuli, mengurangi kesalahpahaman, memperkuat budaya kerja yang terbuka, sekaligus menyiapkan perusahaan untuk merekrut talenta Tuli di kemudian hari.
Apakah perusahaan wajib mempekerjakan penyandang disabilitas?
Ya. Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari total karyawan, sementara instansi pemerintah, BUMN, dan BUMD paling sedikit 2 persen.
Apa saja syarat untuk menjadi juru bahasa isyarat?
Di Indonesia belum ada ketentuan pendidikan formal yang baku. Yang utama adalah penguasaan bahasa isyarat, pemahaman budaya Tuli, kemampuan interpretasi, serta kepatuhan pada etika profesi seperti menjaga kerahasiaan dan bersikap netral. Sertifikasi kompetensi menjadi nilai tambah.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menguasai BISINDO dasar?
Untuk tingkat dasar seperti alfabet, angka, dan percakapan sederhana, umumnya dibutuhkan sekitar delapan hingga sepuluh sesi pelatihan. Yang menentukan kelancarannya adalah kebiasaan berlatih setelah pelatihan selesai.
Bagaimana perusahaan bisa mulai menerapkan BISINDO?
Mulailah dengan memetakan divisi yang paling sering berinteraksi dengan publik, lalu berikan pelatihan dasar bagi tim tersebut. Setelah itu, biasakan latihan rutin dan sediakan akses juru bahasa isyarat untuk kebutuhan yang lebih kompleks.
Kesimpulan
Ketika membahas apa itu BISINDO dan SIBI, fokus utamanya sebenarnya bukan memilih mana yang lebih baik. Yang lebih penting adalah memahami fungsi masing-masing dan menghargai cara berkomunikasi dengan teman-teman disabilitas.
Bagi perusahaan, mengenal BISINDO adalah investasi kecil dengan dampak yang luas, mulai dari kelancaran komunikasi internal, kualitas layanan, hingga kesiapan menerima talenta Tuli. Perusahaan sebaiknya tidak menunggu sampai kebutuhan itu mendesak, melainkan mulai membangun kemampuan komunikasinya dari sekarang, sedikit demi sedikit namun konsisten.
Artikel ini terakhir ditinjau dan diperbarui oleh Tim Parakerja pada 11 Agustus 2026 untuk memastikan keakuratan informasi dan relevansinya bagi perusahaan yang membangun komunikasi inklusif.