Kenali Apa Bedanya antara Difabel dan Disabilitas

Meskipun memiliki arti yang serupa, disabilitas dan difabel berbeda dalam sudut pandang dan konteks penggunaannya. Sering digunakan secara bergantian, kedua istilah ini memiliki nuansa makna yang berbeda tergantung pada situasi dan pendekatan yang digunakan. Secara umum, keduanya merujuk pada keterbatasan fisik atau keterbatasan dalam melakukan aktivitas tertentu.

Sebagian orang awam menganggap keduanya sama. Tidak sepenuhnya keliru, tapi pemahaman yang lebih tepat tentang perbedaannya penting, terutama dalam konteks advokasi, kebijakan publik, dan etika berkomunikasi dengan komunitas disabilitas.

Istilah Difabel: Penekanan pada Kemampuan

Istilah “difabel” sering dianggap lebih halus karena menekankan kemampuan yang berbeda, bukan kekurangan. Kata difabel menempatkan penyandang disabilitas sebagai seseorang dengan kemampuan yang sama, hanya saja terdapat perbedaan dalam caranya. Oleh karena itu, perbedaan disabilitas dan difabel dalam hal ini lebih terletak pada cara penyebutannya.

Istilah difabel diadopsi dari frasa dalam Bahasa Inggris “differently abled“, bukan dari kata “diffabled” yang tidak dikenal secara formal. Para aktivis mengadopsi istilah ini dari Amerika Utara pada tahun 1990, dan sejak saat itu istilah difabel mulai digunakan sebagai alternatif yang lebih inklusif dan humanis dalam konteks advokasi dan kebijakan publik.

Dampak Stigma dan Perbedaan Makna

Penyandang disabilitas sering mendapatkan perlakuan yang berbeda, tidak hanya dalam kehidupan keluarga, tetapi juga saat bermasyarakat. Stigma terhadap ketidakmampuan penyandang disabilitas sering menjadi penyebab perlakuan yang tidak setara dari lingkungan sekitar.

Di sinilah perbedaan kedua istilah ini menjadi relevan. Istilah disabilitas menggambarkan kondisi seseorang yang mempunyai kekurangan fisik, mental, maupun intelektual dalam melakukan aktivitas tertentu. Sementara istilah difabel lebih menekankan pada kemampuan yang berbeda (differently abled) daripada keterbatasan, serta menghindari pendekatan defisit yang cenderung menempatkan penyandang disabilitas sebagai kelompok yang tidak berdaya.

Keterbatasan yang dimaksud dalam disabilitas mencakup hal-hal seperti penglihatan, pendengaran, komunikasi, gerakan, pemikiran, pembelajaran, memori, kesehatan mental, dan hubungan sosial. Disabilitas tidak hanya merujuk pada kondisi kesehatan, tetapi juga mencakup keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik yang memengaruhi aktivitas dan partisipasi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman Difabel dan Keterbatasan Disabilitas

Istilah “difabel” digunakan untuk merujuk langsung kepada individu yang memiliki disabilitas, sebagai alternatif yang lebih inklusif dan humanis. Jika disabilitas mengarahkan pada kondisi tertentu, difabel mengarahkan pada pribadi atau seseorang dengan kondisi tersebut.

Seperti yang sudah banyak diketahui, disabilitas terdiri dari disabilitas fisik, disabilitas sensorik, disabilitas intelektual, dan disabilitas mental. Menurut WHO, disabilitas memiliki tiga dimensi utama, yaitu:

  • Penurunan struktur fungsi tubuh, baik secara fisik maupun mental, seperti kehilangan ingatan atau kehilangan anggota tubuh
  • Keterbatasan melakukan aktivitas, seperti kesulitan berjalan, melihat, mendengar, dan pemecahan masalah
  • Keterbatasan berpartisipasi, yaitu tidak dapat beraktivitas secara normal seperti bersosialisasi atau bekerja

Seseorang yang difabel mungkin mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas tertentu, tergantung pada konteks lingkungan dan dukungan yang tersedia. Namun, difabel dapat menggunakan alat khusus sesuai dengan kondisinya untuk membantu menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Contoh Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

Seseorang yang mengalami gangguan pendengaran atau tuli mengalami kesulitan untuk mendengar suara dengan jelas. Orang ini merupakan penyandang disabilitas, karena tidak dapat mendengar seperti orang tipikal. Tetapi, ia juga dapat disebut difabel, karena terdapat keterbatasan peran mendengar dalam beraktivitas sehari-hari.

Namun, seseorang yang mengalami tuli dapat menggunakan alat khusus yang membantunya agar dapat menggunakan fungsi telinganya dengan lebih baik. Sehingga seorang penyandang disabilitas tuli dapat mendengar dengan lebih jelas dan terbantu dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula yang mengalami gangguan kecemasan dan termasuk sebagai penyandang disabilitas mental. Rasa cemas yang berlebihan dapat mengganggu kehidupannya sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosialnya.

Perbedaan Menurut KBBI dan CRPD

Perbedaan disabilitas dan difabel juga terlihat dari konteks penggunaannya oleh kelompok aktivis. Istilah difabel sering menjadi acuan bagi LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam konteks advokasi.

Istilah difabel lebih mengarah kepada kata benda yang mengacu pada manusianya, yaitu seseorang yang menyandang suatu perbedaan pada level fungsi jasmani maupun rohani. Sementara disabilitas merupakan bentuk kata benda yang digunakan untuk menyebut jenis disabilitasnya, seperti gangguan komunikasi, gangguan penglihatan, dan gangguan pendengaran.

Oleh karena itu, tidak tepat menggunakan istilah “kaum disabilitas”, karena “disabilitas” mengacu pada kondisi, bukan pada identitas kelompok sosial.

Perbedaan Penggunaan dalam Dokumen Resmi

Istilah “penyandang disabilitas” digunakan secara resmi dalam dokumen ratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD). Istilah ini menjadi pengganti dari kata “cacat” yang dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai disability. Perlu dicatat bahwa disability dalam Bahasa Inggris merujuk pada kondisi yang membatasi aktivitas atau partisipasi seseorang, bukan “sekelompok manusia”. Sehingga tidak ada istilah “kaum disabilitas” atau “seorang disabilitas”.

Menurut CRPD, untuk menggantikan istilah penyandang disabilitas dapat menggunakan salah satu dari kata berikut: difabel, kaum difabel, penyandang disabilitas, atau kaum penyandang disabilitas.

Perbedaan Menurut KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga mencatat perbedaan definisi antara kedua istilah ini. Menurut KBBI, istilah difabel mempunyai arti sebagai penyandang disabilitas dengan makna yang lebih umum. Sementara istilah disabilitas menurut KBBI mempunyai arti untuk menggambarkan suatu keadaan yang membatasi kemampuan mental maupun fisik dari seseorang, termasuk keterbatasan fisik, mental, intelektual, dan/atau sensorik dengan jangka waktu yang lama yang berpengaruh pada kesulitan dalam berinteraksi.

Aspek Disabilitas Difabel
Asal istilah Dari kata disability (Bahasa Inggris) Dari frasa differently abled (Amerika Utara, 1990)
Fokus makna Kondisi atau jenis keterbatasan Individu dengan kemampuan berbeda
Penggunaan resmi Digunakan dalam CRPD dan undang-undang nasional Lebih umum digunakan oleh aktivis dan LSM
Menurut KBBI Keadaan yang membatasi kemampuan fisik atau mental Penyandang disabilitas (makna lebih umum)
Pendekatan Lebih medis dan deskriptif Lebih humanis dan berbasis kemampuan

Perbedaan disabilitas dan difabel sebenarnya hanya berupa penggunaan istilah dan penerapannya dalam konteks yang berbeda. Meskipun kedua istilah memiliki arti yang hampir serupa, penerapannya dapat menimbulkan perbedaan makna tergantung konteks sosial dan kebijakan. Oleh karena itu, penggunaan kedua istilah tersebut perlu disesuaikan dengan konteks dan tujuannya.

Untuk memahami lebih lanjut hak-hak yang melekat pada penyandang disabilitas sebagai warga negara, simak artikel kami tentang hak-hak penyandang disabilitas sebagai warga negara.

FAQ: Perbedaan Disabilitas dan Difabel

Apa perbedaan utama antara istilah disabilitas dan difabel?

Disabilitas merujuk pada kondisi atau jenis keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik yang dialami seseorang. Sementara difabel merujuk pada individunya, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan berbeda (differently abled). Difabel cenderung digunakan dalam konteks yang lebih inklusif karena menekankan kemampuan, bukan kekurangan.

Mana istilah yang lebih tepat digunakan, disabilitas atau difabel?

Tergantung konteksnya. Dalam dokumen resmi seperti undang-undang dan ratifikasi CRPD, istilah “penyandang disabilitas” adalah yang digunakan secara formal. Sementara dalam konteks advokasi dan komunikasi yang lebih humanis, istilah difabel atau kaum difabel sering lebih dipilih oleh para aktivis dan LSM.

Apakah boleh menyebut seseorang sebagai “seorang disabilitas”?

Tidak tepat. Disabilitas mengacu pada kondisi, bukan identitas seseorang. Yang tepat adalah “penyandang disabilitas” atau “difabel”. Demikian pula, istilah “kaum disabilitas” tidak direkomendasikan karena disabilitas bukanlah kelompok sosial, melainkan kondisi yang dialami seseorang.

Apa tiga dimensi disabilitas menurut WHO?

Menurut WHO, disabilitas memiliki tiga dimensi: penurunan struktur fungsi tubuh (seperti kehilangan anggota tubuh atau gangguan memori), keterbatasan melakukan aktivitas (seperti kesulitan berjalan atau melihat), dan keterbatasan berpartisipasi dalam kehidupan sosial seperti bekerja atau bersosialisasi.

Apakah difabel dan penyandang disabilitas bisa digunakan secara bergantian?

Secara umum bisa, karena keduanya merujuk pada individu yang sama. Menurut CRPD, istilah yang dapat digunakan sebagai pengganti penyandang disabilitas antara lain difabel, kaum difabel, dan kaum penyandang disabilitas. Namun dalam konteks dokumen resmi dan perundang-undangan, “penyandang disabilitas” tetap menjadi pilihan yang paling tepat.

Bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dengan atau tentang penyandang disabilitas?

Gunakan istilah yang menghormati individunya, bukan kondisinya. Hindari kata-kata seperti “cacat” atau “orang cacat” yang berkonotasi merendahkan. Gunakan “penyandang disabilitas” atau “difabel” sesuai konteks. Yang tidak kalah penting, perlakukan penyandang disabilitas sebagai individu dengan hak dan kemampuan yang setara, bukan sebagai objek belas kasihan. Untuk referensi lebih lanjut tentang cara berinteraksi yang baik, baca panduan lengkap kami mengenai berinteraksi dengan penyandang disabilitas di ruang publik.


Artikel ini terakhir ditinjau dan diperbarui oleh Tim Parakerja pada 14 Mei 2026 untuk memastikan keakuratan informasi dan kesesuaian dengan perkembangan terminologi disabilitas terkini.