
Disabilitas adalah kondisi di mana seseorang mengalami keterbatasan pada pikiran atau tubuhnya, sehingga orang yang mengalami disabilitas biasanya kesulitan dalam beraktivitas atau berinteraksi dengan lingkungannya. Sebenarnya, banyak hal yang dapat mendefinisikan pengertian disabilitas tersebut. Seperti keadaan seseorang yang memiliki keterbatasan secara fisik, mental dan intelektual. Bahkan keterbatasannya juga meliputi gangguan sensorik.
Contents
Disabilitas Tuna Rungu
Disabilitas tuna rungu merupakan salah satu jenis disabilitas yang ada. Tuna rungu termasuk dalam kategori disabilitas sensorik yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi pendengaran. Orang yang mengalami tuna rungu maka akan mengalami gangguan fungsi pendengaran.
Gangguan pada penderita tuna rungu terjadi pada fungsi sensoriknya, sehingga mereka tidak dapat mendengar karena mengalami disfungsi pada indera pendengaran.
Penderita tuna rungu juga mengalami gangguan lainnya seperti mengalami kesulitan berbicara. Hal ini karena fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan berbicara pada seseorang. Beberapa penyandang tuli, terutama yang mengalami gangguan sejak lahir dan tidak mendapatkan akses bahasa, dapat mengalami keterlambatan atau kesulitan berbicara.
Banyak orang beranggapan bahwa gangguan pada panca indera hanya terjadi dalam satu bentuk saja. Padahal yang sering terjadi seseorang dapat mengalami sekaligus beberapa gangguan atau disfungsi. Seperti halnya penderita tuna rungu. Sehingga penderita seringkali juga mengalami gangguan dalam kemampuan berbicara.
Beberapa hal penting terkait keterbatasan pendengaran ini meliputi perbedaan penyebutan dan pengertian antara tuna rungu dan tuli. Kemudian bagaimana ciri-ciri yang terlihat pada diri orang yang mengalami disfungsi pendengaran. Atau dikenal sebagai disabilitas tuna rungu.
Perbedaan Penyebutan dan Pengertian
Ada beberapa orang atau bahkan kebanyakan orang mengalami kekeliruan dalam memahami tentang disabilitas tuna rungu. Istilah “tuli” dan “tuna rungu” sering digunakan secara bergantian, namun memiliki nuansa berbeda. “Tuna rungu” digunakan sebagai istilah medis atau formal, sedangkan “tuli” juga dipakai sebagai identitas budaya oleh komunitas Tuli.
Tuli merupakan serangkaian gangguan yang menyebabkan seseorang tidak dapat mendengar. Tuli dapat merujuk pada kondisi kehilangan pendengaran baik sejak lahir maupun yang terjadi kemudian, dengan tingkat keparahan yang beragam.Kemudian kita menyebutnya tuli karena terjadi gangguan pada pendengarannya.
Tuna rungu merupakan disabilitas sensorik pada fungsi pendengaran yang biasanya terjadi sejak bayi atau masa kanak-kanak. Sehingga tuna rungu merupakan gangguan bawaan yang kadang merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan tuli dapat terjadi sewaktu-waktu pada setiap orang, sekalipun pada orang yang sehat.
Menurut kaidah Bahasa Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan budaya Indonesia yang mengutamakan kesopanan dan tata krama. Penyebutan seperti “tuna rungu” lebih banyak digunakan dalam konteks medis atau formal. Namun, istilah “Tuli” (dengan huruf kapital) kini juga diterima dan dipilih oleh sebagian komunitas sebagai identitas budaya yang setara.
Penyebutan ini merujuk pada istilah medis untuk gangguan fungsi pendengaran dan terdengar lebih sopan serta formal dibandingkan menyebutnya tuli.
Itulah bagaimana antara penyebutan dan pengertian yang berkisar pada kondisi gangguan pendengaran pada seseorang. Sebab selain mencoba untuk memberikan pertolongan secara medis, juga tentunya perlu untuk membangkitkan rasa percaya diri pada orang-orang disabilitas. Sehingga memperhatikan bagaimana cara penyebutannya juga mempengaruhi cara memahaminya.
Ciri-Ciri Penderita Tuna Rungu
Setelah memahami disabilitas tuna rungu, penting juga untuk mengetahui ciri-ciri seseorang yang mengalami tuna rungu. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
- Penderita tuna rungu sering berusaha mendengar dengan cara memiringkan kepalanya.
- Mengalami keterlambatan dalam mengembangkan kemampuan berbahasanya.
- Kurang merespon atau bahkan tidak merespon sama sekali terhadap bunyi atau suara yang terdengar.
- Kemampuan mengembangkan bahasanya sangat terlambat.
- Menggunakan bahasa isyarat atau gerakan nonverbal untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak menggunakan bahasa isyarat.
- Menggunakan isyarat yang khusus ketika berkomunikasi dengan sesama tuna rungu.
Ciri lain yang umum pada tuna rungu adalah kesulitan berbicara. Hal ini terjadi karena orang tuna rungu tidak dapat merespon suara atau ucapan orang lain akibat ketidakmampuannya mendengar. Beberapa penyandang tuna rungu mungkin mengalami tantangan dalam berbicara, terutama jika mereka tidak mendapatkan akses bahasa sejak dini. Namun, kemampuan bicara setiap individu berbeda-beda.
Kesulitan seorang tuna rungu adalah karena penderita tidak dapat mendengar suara secara lisan atau oral. Sehingga tidak mengerti untuk mengikuti cara pengucapannya. Hal ini menyebabkan mereka tampak kesulitan berbicara.
Dampak Gangguan Tuna Rungu
Dampak yang paling nyata pada penderita gangguan pendengaran atau tuna rungu biasanya adalah kesulitan berkomunikasi. Yaitu keterlambatan dalam berkomunikasi secara verbal atau lisan. Kondisi ini memengaruhi kemampuan ekspresif (berbicara) dan reseptif (memahami pembicaraan orang lain).
Akibatnya, kondisi ini menghambat komunikasi antara penderita tuna rungu dengan orang-orang di sekitarnya. Dan lingkungannya adalah orang-orang yang mampu mendengar secara lazim dengan menggunakan bahasa verbal. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dampak yang paling berat adalah dalam hal komunikasi.
Dampak lain pada penderita tuna rungu adalah keterlambatan dalam merespon karena tidak dapat mendengar suara. Apalagi untuk merespons atau menjawab suatu percakapan yang terjadi. Dampak psikologis lainnya adalah kecenderungan untuk menjauhi pergaulan sosial. Bahkan, penderita tuna rungu dapat menutup diri dari lingkungan sekitar karena keterbatasannya.
Oleh karena itu, penting bagi orang terdekat untuk merespons dengan baik gejala psikologis akibat gangguan pendengaran tersebut Terlebih untuk selalu mencoba menganggap normal orang-orang dengan gangguan tuna rungu tersebut.
Berbagai bentuk dukungan kepada penyandang tuna rungu akan memberikan dampak positif dan bermanfaat. Mungkin salah satunya dengan mencoba mempelajari bahasa isyarat, atau selalu memberikan dukungan kepada para penyandang tuna rungu.
Solusi Bagi Penderita Tuna Rungu
Tidak ada hal yang tidak dapat Anda atasi, termasuk disabilitas tuna rungu. Gangguan atau disfungsi indera pendengaran, meskipun mengganggu, tetap memiliki solusi.
Apabila ada keluarga, teman, sahabat atau kenalan Anda yang mengalami gangguan pada fungsi pendengaran, yang pertama-tama adalah tetap memberi dukungan secara psikologis, karena hal ini yang paling utama untuk dilakukan.
Selain alat bantu dengar, solusi efektif juga mencakup akses ke bahasa isyarat, pendidikan inklusif, serta teknologi pendukung komunikasi lainnya seperti implan koklea. Baik untuk melakukan komunikasi dengan sesama penderita ataupun dengan orang lain dalam lingkungannya.
Demikian penjelasan mengenai seluk-beluk disabilitas tuna rungu sebagai tambahan informasi bagi pembaca.