Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pada tahun 2017 terdapat sekitar 8 juta penduduk Indonesia yang mengalami gangguan penglihatan, dengan rincian 1,6 juta orang mengalami kebutaan dan 6,4 juta orang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat. Disabilitas penglihatan umumnya diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yaitu buta total (total blindness) dan low vision (penglihatan rendah).
Buta total adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat melihat cahaya sama sekali (no light perception). Sedangkan low vision merupakan kondisi penurunan fungsi penglihatan yang signifikan meskipun telah menggunakan alat bantu optik, dengan ketajaman visual kurang dari 6/18 hingga persepsi cahaya, namun tidak sampai buta total.
Lantas, apakah disabilitas penglihatan masih punya harapan untuk dapat kembali melihat seperti biasa?
Berdasarkan sejumlah referensi medis, kemungkinan fungsi penglihatan kembali normal tergantung pada beberapa faktor, antara lain penyebab kebutaan yang dialami, tingkat keparahan gangguan, usia orang yang mengalaminya, penanganan medis yang dilakukan, dan asupan nutrisi.
Contents
- 1 Penyebab Munculnya Disabilitas Buta secara Bawaan
- 2 Penyebab Disabilitas Penglihatan Non Bawaan
- 3 Kesimpulan
- 4 FAQ: Disabilitas Penglihatan dan Kemungkinan Pemulihan
- 4.1 Apa perbedaan antara buta total dan low vision?
- 4.2 Apakah semua kebutaan bawaan tidak bisa disembuhkan?
- 4.3 Apakah kebutaan akibat katarak bisa disembuhkan?
- 4.4 Faktor apa saja yang menentukan peluang pemulihan disabilitas penglihatan?
- 4.5 Apakah glaukoma bisa menyebabkan kebutaan permanen?
- 4.6 Bagaimana penyandang disabilitas penglihatan bisa tetap mandiri dalam kehidupan sehari-hari?
Penyebab Munculnya Disabilitas Buta secara Bawaan
Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang jadi penyandang disabilitas buta. Secara umum, penyebab disabilitas buta terbagi menjadi dua: bawaan sejak lahir (kongenital) dan non bawaan (didapat setelah lahir).
Buta bawaan adalah gangguan penglihatan yang terjadi sejak dalam kandungan. Faktor penyebabnya mencakup kelainan genetik, infeksi intrauterin terutama TORCH, dan paparan zat toksik selama kehamilan. Meskipun buta bawaan terbilang jarang terjadi, pada sebagian besar kasus harapan kesembuhannya sangat rendah, bahkan tidak ada. Beberapa contoh disabilitas buta bawaan antara lain sebagai berikut.
Anophthalmia
Anophthalmia adalah kondisi seseorang yang tidak memiliki organ mata, baik pada salah satu mata maupun pada kedua mata. Dari sekian kasus anophthalmia, umumnya disebabkan oleh infeksi virus penyakit rubella atau cacar air yang dialami ibu saat hamil. Keterlambatan dalam penanganan medis seringkali menimbulkan dampak fatal pada proses pembentukan organ tubuh bayi dalam kandungan, dan dampaknya tergantung usia kehamilan serta jenis infeksinya.
Hingga saat ini, anophthalmia belum dapat disembuhkan secara medis. Penggunaan bola mata buatan umumnya digunakan untuk tujuan estetika saja, bukan untuk melihat.
Koloboma
Koloboma merupakan permasalahan mata serius akibat area jaringan mata hilang atau tidak menutup secara sempurna. Umumnya koloboma menyerang iris, sehingga membuat pupil mata yang seharusnya berbentuk bulat menjadi tidak beraturan.
Koloboma dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan biasanya bersifat bawaan. Meski tidak bersifat progresif, koloboma dapat disertai kelainan struktural lain yang memperburuk penglihatan. Akibat yang ditimbulkan berupa kerusakan saraf optik yang berujung kebutaan total. Tetapi pada sebagian pasien ada yang tetap bisa melihat walau sangat terbatas.
Mikrophthalmia
Hampir mirip dengan anophthalmia, namun pada mikrophthalmia organ mata tetap ada meski ukurannya sangat kecil atau tidak sesuai dengan ukuran normal. Orang dengan gangguan mata ini biasanya tidak bisa melihat sama sekali pada bagian mata yang sakit, atau bisa melihat namun dengan kemampuan yang sangat rendah.
Hingga saat ini, belum tersedia metode yang dapat mengembalikan fungsi penglihatan pada penyandang mikrophthalmia, meskipun terapi rehabilitatif dan prostetik dapat membantu aspek fungsional dan kosmetik.
Katarak Kongenital
Selama ini banyak yang menyangka bahwa katarak hanya bisa menyerang kelompok lansia. Padahal, sebagian bayi lahir dalam kondisi katarak kongenital. Faktor genetik adalah pencetus terbanyak dari kondisi yang terbilang langka ini. Selain itu, katarak kongenital juga dapat terjadi akibat gangguan autoimun, infeksi TORCH, atau kelainan metabolik.
Katarak kongenital masih memiliki harapan sembuh melalui operasi penggantian lensa asli dengan lensa buatan. Hanya saja, tindakan ini harus dilakukan saat bayi berusia 4 hingga 6 minggu. Sayangnya, banyak anak yang tidak tertangani dengan cepat sehingga hidup sebagai penyandang disabilitas sampai dewasa.
Penyebab Disabilitas Penglihatan Non Bawaan
Disabilitas penglihatan non bawaan terjadi setelah seseorang lahir dan hidup dengan fungsi mata normal sebelumnya. Kebutaan di luar faktor bawaan bisa terjadi secara spontan maupun diawali dengan penurunan kualitas penglihatan secara bertahap. Berikut contoh-contoh buta non bawaan beserta penyebabnya.
Glaukoma
Kebutaan karena glaukoma dapat terjadi sejak dalam kandungan maupun setelahnya, namun sebagian besar kasus dialami oleh orang dewasa dan lansia. Glaukoma adalah kelompok penyakit mata yang merusak saraf optik, biasanya akibat peningkatan tekanan intraokular. Proses kerusakan saraf ini berlangsung sangat cepat sehingga membuat penderitanya kehilangan penglihatan total hanya dalam hitungan beberapa tahun. Namun, deteksi dan penanganan dini dapat memperlambat progresivitas glaukoma dan mengurangi risiko kebutaan permanen.
Retinopati Diabetik
Retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes yang memengaruhi retina akibat kerusakan pembuluh darah kecil, yang dapat menyebabkan kebocoran, perdarahan, dan jaringan parut. Lonjakan kadar gula darah menyebabkan penyumbatan pembuluh darah kecil sehingga distribusi nutrisi untuk mata ikut tersendat. Lambat laun kemampuan penglihatan kian memburuk dan bukan mustahil menjadi buta total.
Tidak ada kepastian apakah kebutaan akibat retinopati diabetik dapat dipulihkan kembali atau tidak. Hasilnya tergantung pada seberapa serius tingkat keparahan dari kerusakan tersebut dan usia penderitanya. Semakin lanjut usia, kemungkinan dapat melihat kembali semakin tipis.
Katarak
Buta non bawaan akibat katarak dipengaruhi oleh faktor yang berbeda dari katarak kongenital. Bila katarak kongenital cenderung karena pengaruh genetik, maka katarak non bawaan terjadi karena intensitas radiasi sinar ultraviolet, polusi udara di atas ambang toleransi, hingga kebiasaan merokok.
Katarak bukan hanya mengurangi ketajaman penglihatan, tetapi juga berisiko menyebabkan kebutaan. Sebagian besar kasus kebutaan akibat katarak dapat dipulihkan melalui operasi penggantian lensa. Namun, jika kebutaan disebabkan oleh degenerasi saraf retina atau atrofi saraf optik, operasi katarak mungkin tidak mengembalikan penglihatan.
| Jenis Gangguan | Bawaan / Non Bawaan | Peluang Pemulihan |
|---|---|---|
| Anophthalmia | Bawaan | Tidak dapat disembuhkan |
| Koloboma | Bawaan | Sebagian kecil masih bisa melihat terbatas |
| Mikrophthalmia | Bawaan | Belum ada metode pemulihan fungsi penglihatan |
| Katarak kongenital | Bawaan | Bisa ditangani dengan operasi jika dilakukan di usia 4-6 minggu |
| Glaukoma | Non bawaan (umumnya) | Penanganan dini dapat memperlambat kerusakan |
| Retinopati diabetik | Non bawaan | Tergantung tingkat keparahan dan usia penderita |
| Katarak | Non bawaan | Sebagian besar dapat dipulihkan melalui operasi |
Kesimpulan
Harapan pemulihan bagi penyandang disabilitas penglihatan tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, usia, dan kecepatan penanganannya. Semakin dini deteksi dan penanganan dilakukan, semakin besar peluang pemulihan fungsi penglihatan secara optimal. Untuk kondisi bawaan seperti anophthalmia dan mikrophthalmia, perjalanan hidupnya berbeda namun tidak berarti berhenti. Banyak penyandang disabilitas penglihatan yang tetap dapat menjalani kehidupan produktif dengan dukungan yang tepat. Untuk memahami lebih lanjut bagaimana fisioterapi dapat mendukung kemandirian penyandang tunanetra, simak artikel kami tentang manfaat fisioterapi untuk penyandang tunanetra.
FAQ: Disabilitas Penglihatan dan Kemungkinan Pemulihan
Apa perbedaan antara buta total dan low vision?
Buta total adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat melihat cahaya sama sekali. Sementara low vision adalah kondisi penurunan fungsi penglihatan yang signifikan meski sudah menggunakan alat bantu optik, dengan ketajaman visual kurang dari 6/18 namun tidak sampai buta total. Penyandang low vision masih memiliki sisa fungsi penglihatan yang bisa dioptimalkan.
Apakah semua kebutaan bawaan tidak bisa disembuhkan?
Tidak semua. Katarak kongenital, misalnya, masih memiliki harapan sembuh melalui operasi penggantian lensa jika dilakukan sangat dini, yaitu saat bayi berusia 4 hingga 6 minggu. Sementara kondisi seperti anophthalmia dan mikrophthalmia hingga saat ini belum memiliki metode medis yang dapat mengembalikan fungsi penglihatan.
Apakah kebutaan akibat katarak bisa disembuhkan?
Sebagian besar ya. Kebutaan akibat katarak non bawaan umumnya dapat dipulihkan melalui operasi penggantian lensa. Namun, jika kebutaan sudah disertai degenerasi saraf retina atau atrofi saraf optik, operasi katarak kemungkinan tidak dapat mengembalikan penglihatan sepenuhnya.
Faktor apa saja yang menentukan peluang pemulihan disabilitas penglihatan?
Ada lima faktor utama: penyebab kebutaan, tingkat keparahan gangguan, usia penderita, kecepatan dan jenis penanganan medis, serta asupan nutrisi. Semakin dini kondisi terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang pemulihan yang bisa dicapai.
Apakah glaukoma bisa menyebabkan kebutaan permanen?
Ya, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak ditangani. Kerusakan saraf optik akibat peningkatan tekanan intraokular berlangsung cepat dan tidak dapat dipulihkan. Namun, deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat memperlambat progresivitas glaukoma secara signifikan dan mengurangi risiko kebutaan total.
Bagaimana penyandang disabilitas penglihatan bisa tetap mandiri dalam kehidupan sehari-hari?
Berbagai alat bantu dan program rehabilitasi tersedia untuk mendukung kemandirian penyandang tunanetra, mulai dari tongkat putih, teknologi pembaca layar, hingga program fisioterapi yang melatih keseimbangan dan orientasi mobilitas. Dukungan dari lingkungan sekitar, aksesibilitas fasilitas publik, dan pemberdayaan melalui pelatihan juga sangat berperan. Baca panduan lengkap kami mengenai rekrutmen penyandang disabilitas sensorik netra untuk memahami bagaimana mereka dapat berkontribusi secara profesional di dunia kerja.
Artikel ini terakhir ditinjau dan diperbarui oleh Tim Parakerja pada 27 Mei 2026 untuk memastikan keakuratan informasi dan kesesuaian dengan perkembangan pengetahuan medis terkini.