Di kawasan Asia Tenggara, diperkirakan terdapat sekitar 62 juta orang yang hidup dengan disabilitas. Sayangnya, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak di antara 10 negara ASEAN.
Menurut SUSENAS 2020, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 28,05 juta atau setara 10% dari populasi nasional. Terpaut jauh dari jumlah disabilitas yang ada di Filipina, Vietnam, dan Thailand. Tingginya jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tentu saja memantik rasa ingin tahu khalayak tentang faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi.
Melalui berbagai survey kesehatan, termasuk survey yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, terkuak beberapa faktor penyebab tingginya angka penyandang disabilitas di Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain, ialah:
Contents
Kepadatan Penduduk
Salah satu cara mengetahui penyebab di balik banyaknya jumlah penyandang disabilitas di suatu negara adalah dengan menyorot seberapa banyak jumlah penduduk di negara tersebut. Indonesia sendiri merupakan negara dengan penduduk terpadat nomor satu di ASEAN. Jumlah populasinya mencapai 277.534.122 jiwa.
Semakin padat jumlah penduduk, semakin besar pula berbagai risiko yang ditimbulkan, termasuk prevalensi disabilitas. Jika kita bandingkan dengan Brunei Darussalam, jelas angka populasi disabilitas Indonesia tampak jauh membengkak.
Di Brunei, jumlah penyandang disabilitas tercatat hanya sekitar 9.282 orang. Angka tersebut terkesan minimalis. Padahal populasi penduduk Brunei pun hanya mencapai 463.700, jauh di bawah Indonesia. Oleh karena itu, jumlah penyandang disabilitas di Brunei sangat kecil jika dibandingkan dengan Indonesia.
Hal yang sama dapat kita tilik dari negara-negara ASEAN lainnya. Misalnya, Filipina dan Vietnam. Filipina menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penduduk disabilitas terbanyak di Asia Tenggara.
Lalu disusul oleh Vietnam. Dari total populasi nasional kedua negara tersebut, penduduk Filipina lebih banyak daripada Vietnam. Wajar jika penyandang disabilitas di Filipina lebih banyak daripada Vietnam tapi lebih sedikit daripada Indonesia.
Indonesia Termasuk Negara Miskin
Meski menurut laporan BPS grafik kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan dari 9,36% ke 9,03%, namun penurunan angka tersebut tersebut belum berhasil menghapus nama Indonesia dari daftar 100 negara miskin di dunia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara sendiri, standar pengeluaran per kapita Indonesia/bulan di bawah 20 ribu rupiah. Terendah daripada Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Kemiskinan secara tak langsung berdampak pada tingkat pengetahuan penduduk terhadap kesehatan. Pemenuhan gizi tersendat oleh karena faktor ekonomi akan berdampak pada tumbuh kembang anak di dalam kandungan maupun setelah kelahiran sehingga menjadikannya seorang disabilitas seumur hidup.
Angka Stunting
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia tenggara tak lantas membuat Indonesia bebas dari kasus stunting. Faktanya, 1 dari 5 anak di bawah usia lima tahun berstatus gizi buruk atau stunting. Tak tanggung-tanggung, persentase kasus stunting di Indonesia mencapai 21,6% atau nomor dua terbanyak setelah Timor Leste.
Stunting sendiri merupakan salah satu penyebab terjadinya cacat bawaan maupun cacat di usia lanjut. Asupan nutrisi di bawah kebutuhan normal tubuh, memunculkan risiko disabilitas fisik maupun mental, seperti:
- Perkembangan otak sangat lamban.
- Tubuh kerdil.
- Berat badan di bawah rata-rata.
Meskipun Timor Leste memiliki tingkat stunting yang sangat tinggi, dengan sekitar 47% anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, jumlah penduduk di Timor Leste jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 270 juta jiwa. Meskipun stunting dapat menyebabkan disabilitas fisik dan kognitif, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tetap lebih banyak karena faktor jumlah penduduk yang jauh lebih besar serta berbagai faktor lain seperti kemiskinan, kecelakaan, dan masalah kesehatan yang turut berkontribusi pada prevalensi disabilitas.
Kondisi Ibu Hamil
Kondisi ibu hamil perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor penyebab disabilitas di suatu negara. Ibu yang mengalami permasalahan kesehatan serius, berisiko melahirkan anak disabilitas. Begitupun ketika ibu hamil mengalami malnutrisi, terutama pada trimester pertama kehamilan.
Di Indonesia, angka ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) masih cukup tinggi. Ditambah lagi tingkat pengetahuan ibu muda terhadap kesehatan diri dan bayi dalam kandungan rendah. Akibatnya tumbuh kembang bayi terhambat dan berpotensi disabilitas ketika lahir.
Kualitas Udara
Baik atau buruk kualitas udara suatu negara turut mempengaruhi kualitas kesehatan penduduk di dalamnya. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa udara yang tercemar atau polusi udara oleh asap kendaraan bermotor, pembakaran lahan, emisi industri, meningkatkan risiko autisme pada anak hingga 78%.
Sayangnya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, menduduki peringkat ke-14 global dan peringkat pertama di Asia Tenggara. Rapor merah kualitas udara tersebut turut memperburuk angka penyandang autis di Indonesia. Betapa tidak? Kementerian Kesehatan membeberkan data lonjakan jumlah penyandang autis setiap tahun. Sedikitnya, setiap tahun terjadi penambahan jumlah penyandang autis sebanyak 500 orang.
Dari fakta tersebut, tidak mengherankan jika jumlah penyandang disabilitas di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Tingkat Kecelakaan Kerja Tinggi
Selain faktor genetik, disabilitas juga bisa disebabkan oleh kecelakaan. Baik itu kecelakaan kerja, maupun kecelakaan lalu lintas. Tak jarang kecelakaan fatal mengakibatkan anatomi tubuh tidak lagi sempurna secara bentuk maupun fungsi.
Di Indonesia tingkat kecelakaan kerja masih terbilang tinggi. Bahkan, termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Setiap tahun terdapat penambahan jumlah pasien kecelakaan kerja. Penelitian yang dilakukan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo menghasilkan data bahwa sebanyak 57,2% dari pasien kecelakaan kerja mengalami perubahan bentuk atau fungsi tubuh akibat insiden tersebut. Mungkin mengakibatkan kecacatan permanen yang menyebabkan mereka menjadi penyandang disabilitas.
Berbeda dengan Singapura dan Brunei. Tingkat kecelakaan kerja dan lalu lintas di kedua negara tetangga Indonesia itu sangat minim. Singapura sendiri dalam beberapa tahun belakangan mengalami penurunan angka kematian/kecelakaan di tempat kerja. Oleh sebab itu, kasus cacat anatomi akibat kecelakaan kerja di Singapura jarang terjadi.
Itulah faktor penyebab jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Ini bukanlah prestasi membanggakan, melainkan PR yang harus kita selesaikan bersama demi menekan pertambahan jumlah disabilitas di masa mendatang.
